JAKARTA – Komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dalam menggerakkan roda ekonomi akar rumput kian nyata. Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, perseroan sukses menggelontorkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp84,36 triliun, menyalakan optimisme baru bagi para pelaku usaha mikro di berbagai penjuru tanah air.
Kucuran modal tersebut setara dengan 46,87 persen dari total plafon KUR tahunan yang diamanahkan kepada BRI, yakni sebesar Rp180 triliun. Guna memastikan dampak yang berkelanjutan, mayoritas aliran dana ini diarahkan ke sektor-sektor produktif dengan porsi mencapai 67,18 persen. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian tampil sebagai pilar penyerapan terbesar dengan nilai mencapai Rp35,91 triliun.
Pencapaian ini tidak hanya menegaskan posisi BRI sebagai lokomotif penyaluran KUR di Indonesia, tetapi juga menjadi akselerator nyata bagi program Asta Cita pemerintah dalam memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sinergi Pertumbuhan Bisnis dan Kesejahteraan Sosial
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengemukakan bahwa arah kebijakan bisnis BRI dirancang agar selalu berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan sosial. Baginya, kinerja keuangan yang sehat baru akan bermakna apabila mampu memberikan kontribusi langsung pada penguatan ekonomi kerakyatan.
“Kami ingin memastikan pertumbuhan Perseroan tidak hanya tercermin pada kinerja keuangan, tetapi juga pada kontribusi nyata BRI dalam pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi kerakyatan, dan penciptaan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Hery dalam keterangannya yang dirilis Selasa (7/7/2026).
Dengan menitikberatkan penyaluran pada sektor-sektor riil yang produktif, perluasan akses pembiayaan ini diharapkan dapat mendorong pelaku usaha kecil untuk naik kelas. Efek domino dari ketersediaan modal yang memadai ini diyakini mampu merangsang pembukaan lapangan kerja baru, memperkokoh ketahanan pangan, serta mempertebal daya tahan ekonomi nasional dari ketidakpastian pasar global.[]











