SEANTERONEWS.com — Polemik seputar Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka kembali memanas. Tak hanya menerbitkan buku berjudul Gibran End Game, Roy Suryo bersama kelompoknya juga merilis dua karya lanjutan bertajuk Gibran Black Chapter dan Gibran Black Brain.
Peluncuran rangkaian buku tersebut diklaim sebagai bentuk kritik dan analisis terhadap perjalanan politik Gibran, khususnya dalam konteks dinamika demokrasi dan kekuasaan di Indonesia.
Roy Suryo menyebut buku-buku tersebut disusun berdasarkan kajian data, opini publik, serta peristiwa politik yang mengiringi kemunculan Gibran di panggung nasional.
Menurutnya, Gibran End Game menjadi pembuka narasi besar, sementara Gibran Black Chapter dan Gibran Black Brain merupakan pendalaman atas isu-isu yang dianggap krusial dan kontroversial.
Ia menegaskan bahwa karya tersebut tidak dimaksudkan sebagai serangan personal, melainkan sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan kontrol publik terhadap kekuasaan.
Namun demikian, peluncuran buku-buku ini menuai respons beragam dari masyarakat. Sebagian menilai langkah tersebut sebagai kritik sah dalam negara demokrasi.
Di sisi lain, tidak sedikit pihak yang menganggap penerbitan buku tersebut sarat muatan politis dan berpotensi memperkeruh suasana pascapemilu.
Sejumlah pendukung Gibran menilai isi buku tersebut tendensius dan tidak mencerminkan capaian maupun kapasitas Gibran sebagai pejabat publik. tagns.co
Pengamat politik menilai fenomena ini menunjukkan meningkatnya penggunaan buku dan karya tulis sebagai alat perlawanan wacana dalam pertarungan opini publik.
Mereka juga mengingatkan bahwa kritik politik seharusnya tetap berbasis data yang valid dan disampaikan secara proporsional agar tidak menyesatkan masyarakat.
Rilis tiga buku ini diperkirakan akan terus memicu diskusi dan perdebatan publik, seiring masih hangatnya dinamika politik nasional pascapemilihan presiden dan wakil presiden.[]












