SEANTERONEWS.com – Situasi keamanan di Iran semakin mencekam di awal tahun 2026. Pemerintah Iran dilaporkan mulai mengambil langkah drastis dengan memutus akses internet secara masif dan melakukan serangkaian penangkapan terhadap demonstran seiring dengan berlanjutnya aksi protes di berbagai wilayah negara tersebut.
Gangguan jaringan ini diduga kuat sebagai upaya otoritas setempat untuk menghambat koordinasi massa dan mencegah penyebaran video kekerasan di media sosial.
Lembaga pemantau internet global melaporkan adanya penurunan drastis trafik data di Teheran, Isfahan, hingga Mashhad. Pemutusan akses ini terjadi tak lama setelah seruan aksi protes terhadap inflasi dan kebijakan pemerintah semakin meluas di platform digital.
Selain memutus jalur komunikasi, aparat keamanan Iran dilaporkan telah menangkap puluhan hingga ratusan orang yang dianggap sebagai “provokator” kerusuhan. Media pemerintah menyatakan bahwa penangkapan dilakukan untuk menjaga ketertiban umum, namun para aktivis HAM memperingatkan adanya potensi pelanggaran hak asasi dalam proses penahanan tersebut.
Langkah keras Teheran ini memicu kecaman dari berbagai organisasi internasional. Pemutusan internet dianggap sebagai pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi, sementara penangkapan massal tanpa proses hukum yang transparan menjadi sorotan tajam PBB.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lapangan dilaporkan masih sangat dinamis. Banyak warga yang mencoba menembus blokade digital menggunakan VPN, namun pemerintah terus memperketat pengawasan siber di seluruh negeri.[]












