JAKARTA – Di tengah ketatnya persaingan ekonomi global, paradigma pembangunan Indonesia dituntut untuk bergeser. Kekuatan sebuah negara kini tidak lagi diukur sekadar dari cadangan sumber daya alam atau arus investasi asing yang masuk, melainkan dari keberhasilan bangsa dalam melahirkan pelaku usaha nasional yang kompetitif.
Pandangan ini mengemuka dalam simposium nasional bertajuk “Merumuskan Arsitektur Perekonomian sebagai Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045” yang dirangkaikan dengan peluncuran buku “Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan” di Auditorium Yusuf Ronodipuro, Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Paradigma Baru: Investasi untuk Kapasitas Nasional
Komisaris Utama Ethos Group, Mukit Hendrayatno, menegaskan bahwa investasi asing tetap diperlukan, namun harus ditempatkan sebagai instrumen untuk membangun kapasitas ekonomi dalam negeri. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang hanya bergantung pada angka statistik investasi tanpa memperkuat pelaku usaha nasional akan sulit membawa Indonesia keluar dari jerat negara berpendapatan menengah.
“Pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan investasi tanpa memperkuat pelaku usaha nasional. Investasi harus menjadi sarana untuk memperkuat rantai pasok domestik, mendorong alih teknologi, dan menciptakan perusahaan-perusahaan Indonesia yang mampu berdiri sejajar dengan raksasa global,” ujar Mukit dalam pernyataannya, Kamis (7/8/2026).
Pengusaha sebagai Arsitek Kedaulatan Ekonomi
Mukit memandang peran pengusaha nasional jauh melampaui sekadar mencari keuntungan. Mereka adalah penggerak inovasi, penyerap tenaga kerja, dan mitra strategis negara dalam menjaga kedaulatan ekonomi. Ketika perusahaan nasional tumbuh kuat dan inovatif, maka daya tahan ekonomi Indonesia terhadap guncangan global akan semakin solid.
Ia mendorong agar pengusaha Indonesia berani meninggalkan orientasi perdagangan jangka pendek. Sebaliknya, pelaku usaha harus berfokus pada pembangunan kapasitas produksi, penguasaan teknologi manufaktur, serta membangun merek nasional yang memiliki daya saing internasional. Hal ini selaras dengan pemikiran Soemitro Djojohadikusumo yang meyakini bahwa kemerdekaan politik akan sia-sia jika tidak ditopang oleh kemandirian ekonomi.
Menuju Indonesia Emas 2045
Visi Indonesia Emas 2045, bagi Mukit, merupakan proyeksi bangsa yang mandiri dalam produksi dan percaya diri di panggung dunia. Untuk mencapainya, Indonesia membutuhkan modal sosial yang kuat berupa kolaborasi antar-elemen bangsa dan nasionalisme ekonomi yang terukur.
“Pengusaha nasional bukan sekadar pelaku pasar, mereka adalah bagian dari arsitektur pembangunan. Mereka menjadi jembatan antara kebijakan negara, kemajuan teknologi, dan kesejahteraan masyarakat. Semakin kuat dunia usaha nasional kita, semakin besar pula kemampuan Indonesia menentukan arah pembangunannya sendiri tanpa bergantung berlebihan pada kekuatan eksternal,” paparnya.
Simposium yang dihadiri oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono, para pakar ekonomi seperti Prof. Didin S. Damanhuri, hingga para penulis buku tentang Soemitro Djojohadikusumo ini menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan kebangsaan. Sinergi antara negara, ilmu pengetahuan, dan dunia usaha adalah kunci utama bagi Indonesia untuk mewujudkan peradaban yang berdaulat, mandiri, dan berdaya saing tinggi.[]









