SEANTERONEWS.com – Pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan sinyal tekanan berat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Nilai tukar Rupiah terperosok ke level terdalam dalam sejarah, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.30 WIB, mata uang Garuda melemah sebesar 45 poin atau terkoreksi 0,25 persen. Kini, posisi Rupiah berada di angka Rp17.713 per Dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang dialami Rupiah dalam beberapa waktu terakhir, di mana mata uang domestik konsisten bergerak di area pelemahan.
Respons Bank Indonesia
Di tengah gejolak pasar ini, posisi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, sempat menjadi sorotan. Sebelumnya, Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, sempat melayangkan desakan agar orang nomor satu di bank sentral tersebut mundur dari jabatannya.
Menanggapi desakan tersebut usai rapat koordinasi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Senin (18/5/2026), Perry memberikan jawaban singkat. Ia tetap optimistis bahwa fundamental ekonomi tanah air masih terjaga. “Yakin (Rupiah) stabil,” ucapnya singkat.
Tekanan Juga Menghantam IHSG
Sentimen negatif tak hanya terjadi di pasar uang, melainkan juga menjalar ke pasar modal domestik. Pada awal pembukaan perdagangan pukul 09.05 WIB, IHSG tercatat turun 30,5 poin atau 0,46 persen ke level 6.568.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat antusiasme pelaku pasar tetap ada, namun cenderung berhati-hati. Berikut rincian aktivitas perdagangan pagi ini:
Volume Transaksi: 2,78 miliar saham.
Nilai Transaksi: Rp1,38 triliun.
Frekuensi: 209.442 kali transaksi.
Secara teknikal, pergerakan saham di papan bursa menunjukkan variasi di tengah sentimen pasar. Tercatat sebanyak 278 saham berhasil menguat, sementara 226 saham lainnya mengalami pelemahan, dan 184 saham berada dalam posisi stagnan.
Kondisi ini mencerminkan tingginya kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan domestik ke depannya. Para pelaku pasar kini tengah memantau langkah strategis pemerintah dan otoritas moneter dalam meredam volatilitas yang terjadi agar kepercayaan pasar dapat segera pulih.









