SEANTERONEWS.com – Unggahan surat singkat tulisan tangan di media sosial oleh mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sanjaya, memicu berbagai spekulasi di ruang publik.
Surat yang ditujukan kepada Nanik S Deyang yang kini menjabat sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana berisi ucapan selamat yang sarat akan teka-teki, terutama di tengah status hukum Sony yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).
Dalam surat singkat yang diunggah ke akun Instagram pribadinya tersebut, Sony menyisipkan pesan terima kasih atas sebuah “hadiah” yang diberikan oleh Nanik. Hal ini langsung menarik perhatian para analis politik dan hukum yang mengamati jalannya pengusutan kasus korupsi tata kelola di tubuh BGN.
Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai bahwa penyampaian ucapan selamat kepada pejabat baru yang menggantikan posisi pimpinan lama sebenarnya merupakan hal yang lumrah. Namun, konteks ucapan terima kasih atas “hadiah” yang diekspos secara sengaja ke ranah publik melalui media sosial pribadi memunculkan tanda tanya besar.
“Mengirimkan ucapan selamat adalah hal yang wajar bagi pejabat yang baru dilantik. Namun, mengunggah foto pesan tulisan tangan yang berterima kasih atas ‘hadiah’ dari Nanik S Deyang ke Instagram pribadi justru memicu persoalan baru,” ujar Erizal melansir dari RMOL.ID.
Menurut analisis Erizal, publikasi secarik kertas tersebut diduga kuat merupakan langkah taktis atau manuver pertama yang dilancarkan Sony Sanjaya setelah dirinya dicopot dari jabatan dan dijebloskan ke tahanan oleh penyidik Kejagung. Sinyal tersebut semakin dipertegas dengan langkah Sony berikutnya yang mengajukan permohonan sebagai Justice Collaborator (JC) guna membantu membongkar aliran kasus tersebut.
Erizal pun mempertanyakan substansi dari kata “hadiah” yang disampaikan oleh Sony. Merujuk pada ulasan jurnalis senior Dahlan Iskan, Nanik S Deyang memang dikenal memiliki profil yang pemurah dan gemar membantu sesama. Namun, bantuan fisik atau material secara harfiah dinilai sangat mustahil diberikan kepada seseorang yang sedang menjalani proses penahanan hukum.
Oleh karena itu, penggunaan istilah tersebut diyakini merupakan sebuah kiasan atau sindiran halus (satire).
“Jika hadiah fisik itu mustahil, maka makna kiasan jauh lebih masuk akal. Pertanyaannya, ke arah mana kiasan itu ditujukan oleh Sony?” ungkap Erizal.
Satu kemungkinan besar adalah bahwa nasib hukum yang menimpa Sony saat ini merupakan konsekuensi langsung dari peran Nanik dalam membongkar sengkarut tata kelola anggaran di internal BGN. Apabila Nanik merupakan sosok di balik terbongkarnya kejanggalan sistemik tersebut hingga menyeret Sony sebagai tersangka, tindakan tersebut dinilai sangat positif bagi pembersihan birokrasi, meskipun menjadi “hadiah pahit” bagi Sony.
Erizal juga menyoroti perbedaan sikap di antara para pejabat BGN yang dicopot. Ia mempertanyakan mengapa figur lain yang turut tersandung dalam perombakan kepemimpinan lembaga tersebut, seperti Dadan Hindayana dan Lodewijk Pusung, memilih bersikap pasif dan tidak melakukan manuver serupa di media sosial seperti yang ditunjukkan oleh Sony.[]











