BREAKING

WISATA

Merekam Kejayaan Islam Melayu di Batanghari: Menilik Kemegahan Menara dan Jembatan Gentala Arasy

Menara Gentala Arasy dan jembatan meliuk di Sungai Batanghari menyimpan rekam jejak Islam Melayu Jambi sejak abad ke-14.

JAMBI – Lanskap Kota Jambi selalu berkelindan erat dengan riak sejarah Sungai Batanghari. Tepat di tepian sungai terpanjang di Sumatra tersebut, berdiri kokoh sebuah mahakarya arsitektur setinggi 80 meter yang menjadi penanda visual kota: Menara Gentala Arasy.

Daya tariknya kian memikat berkat keberadaan Jembatan Gentala Arasy, titian pedestrian sepanjang 503 meter dengan siluet meliuk menyerupai huruf S. Rancang bangun jembatan gantung pejalan kaki di atas bentang sungai ini menjadi salah satu struktur kurva pertama di Indonesia.

Menara dan jembatan ikonik ini berlokasi di Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan, kawasan yang masyhur dengan sebutan Jambi Kota Seberang. Sejak abad ke-14, wilayah Seberang telah menjadi episentrum persebaran Islam di Jambi tempat bermukim sekaligus titik temu dakwah para alim ulama, saudagar jazirah Arab, dan pedagang Tionghoa Muslim.

Filosofi Genta dan Jejak Pemimpin Daerah

Nama “Gentala Arasy” memuat dua lapis pemaknaan yang mendalam. Secara etimologis, sebutan ini dirangkai dari kata genta (suara lonceng), tala (keselarasan irama), dan arasy (singgasana langit tertinggi), yang melambangkan syiar kebaikan yang berkumandang merdu mengangkasa.

Di sisi lain, nama tersebut merupakan akronim penghormatan: Genah Tanah Lahir Abdurrahman Sayoeti, merujuk pada tanah kelahiran Gubernur Jambi periode 1989–1999.

Pembangunan menara dirintis pada 2011 atas inisiatif Gubernur Jambi Hasan Basri Agus untuk menegaskan identitas keislaman kawasan Seberang. Setelah dirampungkan oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi pada 2014, kompleks monumen bersejarah ini diresmikan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 28 Maret 2015.

Khazanah Berharga di Lantai Dasar Menara

Memasuki bagian dasar menara, pengunjung akan disambut oleh Museum Menara Gentala Arasy yang mengoleksi lebih dari 100 artefak peninggalan peradaban Islam dan kebudayaan Melayu Jambi dari abad ke-16 hingga era modern.

Koleksi paling spektakuler yang memikat perhatian adalah Mushaf Al-Quran al-Jambi. Kitab suci raksasa berukuran 125 x 180 sentimeter ini ditulis tangan langsung pada 2014 dan ditempatkan di atas meja berukir khas Jambi di balik etalase kaca. Setiap lembar mushaf dihiasi ornamen iluminasi unik bermotif dedaunan dan ragam corak batik lokal Jambi.

Selain mushaf akbar, museum menyimpan 23 naskah kuno beraksara Arab-Melayu yang memuat traktat doa, hukum adat, ilmu pengobatan tradisional, hingga silsilah perintis dakwah abad ke-16, Habib Sayyid Hussain. Sebagian naskah bersejarah ini telah dialihmediakan ke format digital demi merawat naskah aslinya dari pelapukan.

Ruang pameran kian lengkap dengan koleksi busana ulama terdahulu seperti destar, jubah, sorban, dan topi trobus serta kepingan uang koin era kolonial bertuliskan Nederlandsch Indie dan Inggeris Island of Sumatra terbitan tahun 1804. Dinding museum juga memuat dokumentasi visual silsilah tokoh penyebar Islam, mulai dari Datuk Sin Tay, putrinya Nyai Resih, hingga Habib Sayyid Hussain.

Panduan Kunjungan dan Aksesibilitas

Menikmati destinasi wisata sejarah ini sangat mudah dijangkau dari berbagai titik:

Jalur Masuk: Pengunjung dapat berjalan kaki melintasi jembatan pedestrian dari Taman Tanggo Rajo di pusat kota, atau masuk langsung dari sisi Seberang melalui Jalan KH. M. Ja’afar.

Waktu Tempuh: Berjarak beberapa menit dari jantung kota dan sekitar 20 hingga 30 menit berkendara dari Bandara Sultan Thaha Syaifuddin.

Jam Buka: Museum beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB (beberapa layanan pameran khusus menyesuaikan hingga pukul 17.00 WIB), sementara area jembatan terbuka selama 24 jam sebagai fasilitas publik.

Tarif Tiket: Tiket masuk museum dipatok terjangkau sebesar Rp3.000 untuk dewasa, Rp2.000 untuk anak-anak, dan Rp5.000 bagi turis mancanegara. Akses jembatan tidak dipungut biaya.

Waktu paling ideal mengunjungi Gentala Arasy adalah saat sore menjelang temaram: menapaki jembatan di atas Sungai Batanghari, menelusuri lorong peradaban Islam di dalam museum, lalu menutup hari dengan menikmati pendar lampu hias jembatan yang memantul indah di atas permukaan air.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts