BREAKING

BISNIS

Bursa Eropa Menguat di Tengah Reli Teknologi & Laba Solid

Bursa saham Eropa menguat tipis dipicu reli sektor teknologi dan laporan laba perusahaan, meski FTSE 100 tertekan jatuh akibat kerugian tak terduga HSBC.

SEANTERONEWS.com –  Pasar saham Eropa berhasil bangkit pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026), memutus tren negatif yang sempat membayangi kawasan tersebut. Penguatan ini didorong oleh performa impresif sektor teknologi serta rilis laporan keuangan kuartalan yang melampaui estimasi para analis.

Indeks pan-Eropa STOXX 600 mencatatkan kenaikan 0,7 persen ke level 609,72. Hasil ini menjadi angin segar bagi investor setelah indeks tersebut mengalami kontraksi harian terdalam dalam satu bulan terakhir pada sesi sebelumnya.

Kenaikan bursa regional dipimpin oleh indeks DAX Jerman yang melonjak signifikan 1,71 persen ke posisi 24.401,70. Di Paris, indeks CAC 40 juga mengekor dengan kenaikan 1,08 persen ke level 8.062,31.

Sektor teknologi menjadi motor penggerak utama pasar dengan pertumbuhan kolektif mencapai 2,4 persen. Penguatan ini dipicu oleh saham produsen peralatan chip ternama, ASML dan ASMI, yang mendapatkan sentimen positif dari reli sektor semikonduktor di Wall Street.

Beberapa emiten besar menunjukkan performa gemilang:

UniCredit: Saham melonjak 5,9 persen setelah melaporkan rekor laba serta rencana ekspansi melalui akuisisi Commerzbank.

Anheuser-Busch InBev: Saham melejit 9,3 persen berkat angka penjualan yang melampaui ekspektasi.

Intertek: Melonjak 6 persen menyusul kenaikan penawaran akuisisi dari EQT AB.

Rheinmetall: Produsen pertahanan Jerman ini tetap menguat 3,4 persen meski pendapatan berada sedikit di bawah target.

Berlawanan dengan tren positif di daratan Eropa, indeks FTSE 100 Inggris justru anjlok 1,4 persen ke posisi 10.219,11. Pelemahan ini dipicu oleh kejatuhan saham perbankan raksasa HSBC sebesar 6,2 persen. Investor bereaksi negatif atas laporan kerugian tak terduga senilai 400 juta Dolar AS yang diakibatkan oleh kasus penipuan besar.

Meski performa emiten secara umum solid, ruang penguatan pasar masih terhambat oleh tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara AS dan Iran di Selat Hormuz menjaga harga minyak tetap bertengger di atas 110 Dolar AS per barel.

Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terkait inflasi di Benua Biru. Analis memperingatkan bahwa ketergantungan energi Eropa membuat pasar saham kawasan ini jauh lebih rentan terhadap gangguan pasokan minyak dibandingkan dengan pasar Amerika Serikat. Hal inilah yang menyebabkan pemulihan STOXX 600 masih cenderung tertinggal jika dibandingkan dengan rekor-rekor baru yang dicetak oleh indeks S&P 500 di AS.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts