BREAKING

SAINS

Mahasiswa Unud Temukan Spesies Serangga Tongkat Baru di Sumba

Davis Marthin Damaledo, mahasiswa Unud, temukan spesies baru serangga tongkat Nesiophasma davisdamaledoi di Sumba. Penemuan ini terbit di Jurnal Zootaxa.

Dunia sains Indonesia kembali berbangga atas pencapaian peneliti mudanya. Davis Marthin Damaledo, mahasiswa semester empat Program Studi Agroekoteknologi Universitas Udayana (Unud), berhasil mengidentifikasi spesies baru serangga tongkat (stick insect) dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Penemuan ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional, Zootaxa.

Spesies baru tersebut diberi nama Nesiophasma davisdamaledoi, merujuk pada nama sang penemu. Temuan ini menjadi catatan sejarah penting karena merupakan spesies ketiga dari genus Nesiophasma yang ditemukan di Kepulauan Sunda Kecil, sekaligus serangga tongkat pertama yang tercatat secara resmi dari daratan Sumba.

Kronologi Penemuan: Dari Foto Paman ke Jurnal Ilmiah

Perjalanan penemuan ini bermula dari rasa penasaran Davis saat menerima kiriman foto serangga unik dari pamannya di Sumba. Didorong oleh insting peneliti, Davis melakukan observasi langsung di Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Timur. Menariknya, serangga ini ditemukan bukan di hutan belantara, melainkan di pohon jambu biji yang tumbuh di kebun warga.

“Saya kumpulkan telurnya, sebagian saya tetaskan untuk diamati dan sebagian lagi saya kirim ke mentor saya, Mas Garda Bagus Damastra,” ujar Davis.

Awalnya, peneliti internasional Frank H. Hennemann menduga serangga ini identik dengan spesies N. sobesonbaii. Namun, lewat ketelitiannya, Davis berhasil membuktikan perbedaan morfologi yang signifikan, mulai dari corak warna hingga struktur tubuh, sehingga para ahli sepakat menetapkannya sebagai spesies baru.

Karakteristik Unik Nesiophasma davisdamaledoi

Serangga ini memiliki kemampuan kamuflase yang luar biasa dengan bentuk tubuh menyerupai ranting pohon. Berikut adalah beberapa ciri khas yang membedakannya:

Ukuran: Memiliki panjang tubuh berkisar antara 13 hingga 18 sentimeter.

Warna: Individu jantan menonjol dengan warna hijau kebiruan, berbeda dengan spesies kerabatnya yang dominan cokelat.

Detail Fisik: Terdapat bercak hitam pada bagian pipi (genae) dan tidak memiliki garis merah di sisi toraks.

Reproduksi: Mampu berkembang biak secara seksual maupun partenogenesis (tanpa kawin), dengan masa penetasan telur sekitar empat bulan.

Kontribusi bagi Biodiversitas dan BRIN

Spesimen utama atau holotipe dari penemuan ini kini telah didaftarkan dan disimpan secara resmi di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Garda Bagus Damastra, pendiri Indonesian Mantis and Phasmid Forum (IMPF) sekaligus mentor Davis, menyatakan bahwa capaian ini adalah bukti nyata peran vital peneliti muda dalam menyingkap kekayaan hayati Indonesia yang masih tersembunyi.

“Banyak yang bilang hobi ini aneh, tapi inilah yang membuat saya gembira. Semoga penemuan ini menambah pengetahuan kita tentang kekayaan biodiversitas Indonesia,” kata Davis dengan antusias.

Harapan untuk Peneliti Muda Indonesia

Penemuan ini diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa dan peneliti muda lainnya untuk lebih peduli terhadap ordo Phasmatodea dan kelompok serangga lainnya yang sering kali diabaikan. Davis dan Garda menekankan bahwa menjaga ekosistem serangga sama saja dengan menjaga keseimbangan alam secara keseluruhan.

Hadirnya Nesiophasma davisdamaledoi di jurnal global membuktikan bahwa ketekunan personal yang dipadukan dengan bimbingan komunitas akademik mampu memberikan dampak signifikan bagi ilmu pengetahuan dunia.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts