SAINS

Fenomena Blue Moon Mei 2026 Bertepatan dengan Micromoon

Fenomena Blue Moon bulanan dijadwalkan terjadi pada 30-31 Mei 2026, bertepatan dengan micromoon yang membuat ukuran bulan tampak lebih kecil.

SEANTERONEWS.com – Para pengamat langit dan peminat astronomi bersiap menyambut fenomena Blue Moon (Bulan Biru) yang dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan ini, tepatnya pada 30–31 Mei 2026.

Peristiwa langit ini merujuk pada kondisi di mana terdapat dua kali bulan purnama yang jatuh dalam satu bulan kalender masehi yang sama.

Meskipun dinamakan Bulan Biru, satelit alami Bumi tersebut tidak akan mengalami perubahan warna menjadi kebiruan secara fisik. Istilah ini murni merupakan penamaan untuk perhitungan kalender astronomi.

Peristiwa ini terjadi karena siklus fase bulan membutuhkan waktu sekitar 29,5 hari untuk selesai, sedikit lebih pendek dibandingkan dengan durasi rata-rata bulan dalam kalender masehi.

Akibat selisih waktu antara kalender lunar dan matahari tersebut, akumulasi hari akan bertambah dari tahun ke tahun hingga menghasilkan bulan purnama ketiga belas dalam setahun.

Karena sifat akumulatifnya, fenomena ini relatif jarang terjadi, biasanya hanya sekali setiap dua hingga tiga tahun. Fenomena inilah yang melahirkan ungkapan “once in a blue moon” untuk menggambarkan suatu peristiwa yang sangat jarang terjadi. Sebelum tahun ini, Blue Moon terakhir kali teramati pada 19 Agustus 2024.

Menariknya, peristiwa Blue Moon pada akhir Mei 2026 ini akan bertepatan dengan fenomena micromoon. Kondisi ini terjadi ketika posisi bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi (apogee) dalam lintasan orbit tahunannya.

Pertemuan kedua fenomena ini menyebabkan visualisasi bulan purnama tampak sekitar 7 persen lebih kecil dibandingkan dengan ukuran rata-rata purnama pada umumnya.

Dalam sains astronomi, terdapat dua kategori pengelompokan Bulan Biru, yaitu tipe bulanan dan musiman. Tipe bulanan didefinisikan sebagai bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender, seperti peristiwa yang akan terjadi pada 31 Mei 2026 nanti. Sementara itu, tipe musiman merujuk pada bulan purnama ketiga dalam satu musim astronomi yang memiliki empat kali purnama.

Secara historis, metafora “bulan biru” telah digunakan sejak abad ke-16 untuk melambangkan hal yang mustahil. Namun, pandangan ini sempat berubah secara harfiah ketika letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 melepaskan partikel debu vulkanik ke atmosfer dalam jumlah besar, yang menyaring cahaya merah dan sempat membuat bulan tampak kebiruan di beberapa belahan dunia.

Puncak peristiwa Blue Moon bulanan pada 31 Mei 2026 diperkirakan terjadi pada pukul 15.45 WIB.

Walaupun puncaknya berlangsung saat sore hari, masyarakat tetap dapat mengamati keindahan purnama ini dengan mata telanjang pada malam hari sebelumnya hingga menjelang dini hari saat langit cerah. Setelah Mei 2026, fenomena serupa diproyeksikan akan kembali terulang pada 31 Desember 2028, yang diprediksi bertepatan dengan Supermoon dan gerhana bulan total.[]

image_print

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts