Ironi Stok Melimpah tapi Harga Tinggi di Pasar
seanteronews.com – Pada Agustus 2025, stok beras cadangan pemerintah (CBP) mencatat rekor tertinggi sekitar 3,9 hingga 4,2 juta ton. Ironisnya, harga beras justru terus merangkak naik. BPS mencatat sekitar 200 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga, meningkat dibanding periode sebelumnya.
Tata Kelola Gagal, Stok Tak Tersalurkan Efektif
Guru Besar IPB, Dwi Andreas Santosa, menilai salah satu penyebab utama adalah tata kelola beras yang buruk. Meskipun cadangan Bulog melimpah, distribusi ke pasar sangat minim. Akibatnya, stok menumpuk di gudang tanpa memberikan dampak nyata terhadap harga di masyarakat.
Ada ‘Mafia Pangan’ yang Memanipulasi Pasar
Debi Syahputra dari AMPPI menyebut adanya praktik manipulasi harga oleh produsen besar. Pasokan sengaja ditahan agar harga tetap tinggi, membuat harga beras kualitas rendah dijual jauh di atas harga ideal. Kondisi ini memukul penggilingan kecil dan memperkuat dominasi pasar oleh segelintir pemain besar.
Bulog Tak Punya Daya Kendali Harga
Meski menguasai jutaan ton stok, Bulog dinilai belum mampu menekan harga beras di pasar. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digalakkan pemerintah masih jauh dari optimal, sehingga tidak memberikan efek signifikan pada harga eceran.
Urgensi Perbaikan Sistem Distribusi Beras Nasional
Situasi ini menegaskan perlunya perbaikan sistem distribusi pangan nasional. Pasokan yang aman di tingkat nasional tidak cukup jika distribusi tidak merata dan pengawasan lemah. Pemerintah perlu langkah strategis agar stok beras benar-benar sampai ke masyarakat dengan harga yang wajar.[]










