BREAKING

OPINI

Generasi Muda dan Masa Depan Konservasi: Tidak Semua Harus Menjadi Rimbawan

Oleh: Syarifudin Brutu

KETIKA berbicara tentang konservasi, bayangan yang muncul sering kali tidak jauh dari seseorang yang berjalan di tengah hutan dengan pakaian lapangan, mengamati satwa, atau melakukan patroli kawasan. Gambaran itu memang merupakan bagian penting dari kerja konservasi. Namun, jika masa depan hutan hanya dibayangkan sebagai tanggung jawab rimbawan dan ahli biologi, kita sedang melihat persoalan yang jauh lebih luas dengan cara yang terlalu sempit. Hutan tidak berdiri sendiri. Di sekelilingnya terdapat masyarakat, kebijakan, ekonomi, teknologi, pendidikan, budaya, dan berbagai kepentingan yang saling berhubungan.

Pemikiran tersebut menjadi semakin relevan ketika Sikula Uteun atau Sekolah Hutan resmi dibuka di Banda Aceh, Rabu (26/8/2026). Program yang melibatkan 50 mahasiswa itu mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai dari hukum, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, kedokteran hewan, teknik, pertanian, psikologi, hingga keguruan dan ilmu pendidikan. Bagi saya, keberagaman ini bukan sekadar komposisi peserta. Di dalamnya terdapat sebuah pesan penting: persoalan konservasi tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja.

Aceh sendiri memiliki kekayaan alam yang sangat besar. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat luas kawasan hutan Aceh sekitar 3,55 juta hektare. Kawasan tersebut menjadi bagian penting dari bentang alam yang menopang kehidupan berbagai satwa liar sekaligus masyarakat. WCS Indonesia, misalnya, mencatat sejumlah kawasan di Aceh sebagai habitat penting bagi spesies seperti orangutan Sumatra, beruang madu, macan dahan, dan berbagai satwa lainnya. Namun, kekayaan tersebut tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan. Sebagaimana disampaikan perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, M. Daud, S.Hut., dalam kegiatan Sikula Uteun, sumber daya alam yang banyak dan kaya belum tentu membuat masyarakat sejahtera.

Pernyataan tersebut seharusnya membuat kita melihat konservasi secara lebih luas. Ketika hutan rusak, persoalannya bukan hanya berkurangnya pepohonan atau hilangnya habitat satwa. Di dalamnya terdapat persoalan tata ruang, ekonomi masyarakat, kebijakan pembangunan, konflik manusia dan satwa, hingga pola konsumsi manusia. Karena itu, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan menanam pohon atau melakukan patroli. Kita juga perlu memahami mengapa kerusakan terjadi, siapa yang terdampak, bagaimana kebijakan dibuat, dan bagaimana pengetahuan tentang lingkungan dapat diterima oleh masyarakat.

Di sinilah keterlibatan generasi muda dari berbagai disiplin menjadi penting. Seorang mahasiswa hukum mungkin tidak pernah melakukan inventarisasi satwa di hutan, tetapi kelak ia dapat berkontribusi melalui kebijakan dan regulasi yang menentukan perlindungan kawasan. Mahasiswa teknik dapat mengembangkan teknologi pemetaan atau pemantauan lingkungan, sedangkan mahasiswa kedokteran hewan dapat berperan dalam penanganan satwa yang menjadi korban konflik dengan manusia. Mahasiswa pertanian dapat mencari praktik produksi yang lebih berkelanjutan, sementara mahasiswa psikologi dapat mempelajari perilaku manusia terhadap lingkungan. Setiap bidang memiliki persoalan dan perangkatnya sendiri, tetapi semuanya dapat bertemu dalam satu kepentingan: memastikan hubungan manusia dengan alam tidak semakin merusak kehidupan.

Konservasi juga membutuhkan orang-orang yang mampu mengomunikasikan persoalan lingkungan kepada publik. Penelitian yang sangat baik tidak akan banyak berarti apabila hasilnya tidak dipahami oleh masyarakat. Data tentang kerusakan hutan perlu diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami, kebijakan perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang dapat diterima publik, dan persoalan satwa liar perlu diberitakan secara bertanggung jawab. Karena itu, jurnalis, komunikator, desainer, fotografer, pembuat film, hingga pengelola media sosial juga memiliki ruang dalam kerja konservasi. Peran mereka mungkin tidak terlihat seperti pekerjaan di dalam hutan, tetapi dapat menentukan bagaimana masyarakat memandang dan merespons persoalan lingkungan.

Hal yang sama berlaku bagi pendidik dan sastrawan. Pendidikan dapat memperkenalkan nilai konservasi sejak seseorang masih berada di bangku sekolah. Sastra, sementara itu, memiliki kemampuan yang berbeda: ia dapat membangun hubungan emosional manusia dengan alam. Angka tentang luas hutan mungkin membuat seseorang mengetahui seberapa besar kawasan yang dimiliki, tetapi sebuah cerita tentang masyarakat yang kehilangan ruang hidup atau seekor satwa yang kehilangan habitatnya dapat membuat persoalan tersebut terasa lebih dekat. Pengetahuan memberikan pemahaman, sedangkan cerita sering kali membantu manusia menemukan alasan untuk peduli.

Karena itu, menurut saya, menjadi bagian dari konservasi tidak harus dimulai dengan pertanyaan, “Apakah saya mahasiswa kehutanan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang dapat saya lakukan melalui bidang yang saya pelajari?” Apabila seorang mahasiswa sastra mampu menulis tentang krisis ekologis dan membuat pembacanya berpikir, ia telah menemukan satu jalan menuju konservasi. Jika seorang mahasiswa teknik mampu membuat teknologi yang membantu pemantauan kawasan, ia juga sedang mengambil jalan yang sama. Bentuknya berbeda, tetapi tujuannya dapat bertemu.

Gagasan semacam ini sejalan dengan arah kerja konservasi yang semakin membutuhkan kolaborasi lintas sektor. WCS Indonesia, misalnya, menjalankan kerja konservasi dengan melibatkan pendekatan ilmiah, teknologi, pemerintah, serta masyarakat. Berbagai program riset yang mereka kembangkan juga memperlihatkan bahwa persoalan konservasi dapat dikaji melalui ekologi satwa, perubahan tutupan lahan, persepsi masyarakat, penghidupan, kelembagaan, hingga persoalan sosial. Artinya, konservasi memang sejak awal bukan wilayah eksklusif satu bidang keilmuan.

Sikula Uteun menjadi menarik karena gagasan tersebut tidak berhenti pada slogan. Program ini dirancang dalam 17 pertemuan, terdiri atas 10 pembelajaran di dalam ruangan dan tujuh kegiatan lapangan. Para peserta nantinya akan dibagi menjadi dua kelompok dan terjun langsung ke Aceh Barat dan Aceh Selatan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari materi yang disampaikan di kelas, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana persoalan konservasi hadir dalam kehidupan nyata.

Pengalaman tersebut penting karena ruang kelas terkadang membuat persoalan lingkungan terlihat sederhana. Kita dapat berbicara tentang habitat, ekosistem, satwa liar, deforestasi, dan konflik manusia dengan satwa melalui presentasi. Namun, ketika berhadapan langsung dengan kawasan dan masyarakat, persoalannya bisa jauh lebih rumit. Di lapangan, teori bertemu dengan kepentingan, kebutuhan, keterbatasan, dan kenyataan sosial. Dari sanalah mahasiswa dapat belajar bahwa konservasi bukan sekadar menjaga sesuatu agar tidak rusak, tetapi juga mencari cara agar manusia dapat hidup tanpa terus-menerus mengorbankan alam.

Pada akhirnya, generasi muda tidak perlu menunggu menjadi ahli untuk mulai peduli terhadap konservasi. Pengetahuan tentu penting, tetapi kepedulian juga perlu diterjemahkan menjadi tindakan sesuai kemampuan masing-masing. Mahasiswa hukum dapat belajar mengenai kebijakan lingkungan, mahasiswa pendidikan dapat membawa isu ekologis ke ruang kelas, mahasiswa teknologi dapat mengembangkan inovasi, mahasiswa komunikasi dapat menyebarkan informasi yang benar, sedangkan mahasiswa sastra dapat membangun kesadaran melalui tulisan dan cerita. Meskipun jalannya berbeda, semuanya dapat menjadi bagian dari pekerjaan besar yang sama.

Maka, mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap konservasi sebagai pekerjaan satu profesi. Hutan memang membutuhkan rimbawan, tetapi hutan juga membutuhkan biolog, dokter hewan, ahli lingkungan, ahli GIS, teknisi, ekonom, antropolog, psikolog, pendidik, jurnalis, seniman, pembuat film, desainer, penulis, dan banyak orang lain yang bersedia mengambil bagian. Konservasi bukan profesi tunggal, melainkan kerja bersama yang mempertemukan berbagai pengetahuan untuk mempertahankan kehidupan.

Sikula Uteun, dengan 50 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu pada angkatan pertamanya, setidaknya memberi gambaran tentang arah tersebut. Mereka mungkin akan kembali ke fakultas masing-masing setelah mengikuti rangkaian pembelajaran dan kegiatan lapangan. Namun, harapannya, pengetahuan yang dibawa pulang tidak berhenti sebagai catatan di buku atau materi perkuliahan. Pengetahuan itu dapat bergerak dari diri sendiri kepada teman, keluarga, kampus, dan masyarakat.

Sebab, menjaga hutan pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang masuk ke dalam hutan untuk menjaganya. Persoalannya juga adalah berapa banyak orang di luar hutan yang memahami mengapa hutan harus tetap ada. Kita tidak semuanya harus menjadi rimbawan. Kita hanya perlu menemukan cara masing-masing untuk ikut menjaga alasan mengapa hutan, satwa, dan kehidupan di dalamnya masih layak diperjuangkan.

Konservasi bukan pekerjaan satu orang, bukan pula milik satu jurusan. Ia adalah kerja bersama.(*) 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts