JAKARTA – Transformasi pendidikan bagi anak-anak dari kalangan prasejahtera kini memasuki babak baru. Pemerintah kini tidak lagi memandang Sekolah Rakyat sebatas akses pendidikan alternatif, melainkan sebuah wadah strategis untuk mencetak generasi yang mandiri dan siap menghadapi tantangan dunia nyata.
Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dalam acara makan malam bersama 409 siswa Sekolah Rakyat se-DKI Jakarta di kawasan Margaguna, Jakarta Selatan, pada Minggu (6/9/2026).
Di hadapan ratusan anak didiknya yang secara rinci terdiri atas 30 siswa SD, 82 siswa SMP kelas 7, 72 siswa SMP kelas 8, 77 siswa SMA kelas 10, dan 148 siswa SMA kelas 11 Menteri Sosial memaparkan peta jalan masa depan yang telah disiapkan oleh pemerintah.
Menurut Gus Ipul, kelak para lulusan memiliki dua opsi jalur utama setelah menamatkan bangku SMA. Bagi siswa yang berprestasi secara akademik dan ingin melanjutkan pendidikan tinggi, pemerintah akan memberikan pendampingan melalui skema beasiswa.
Sementara itu, bagi lulusan yang memilih untuk langsung mencari nafkah, Kementerian Sosial tengah mematangkan opsi pelatihan keterampilan kerja.
“Sesuai arahan Bapak Presiden, setiap siswa yang lulus SD wajib lanjut ke SMP. Nanti, anak SMP yang unggul silakan mendaftar ke Sekolah Garuda, atau bisa juga meneruskan ke SMA Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul memberi semangat.
Bukan Sekadar Mengejar Ijazah
Gagasan baru ini menempatkan kompetensi vokasi sebagai pilar penting. Kemensos menyadari bahwa lulusan tidak boleh sekadar dilepas dengan bermodalkan ijazah, tetapi harus memiliki nilai tawar saat memasuki bursa kerja.
Untuk memastikan program ini berjalan efektif, Kemensos menggandeng Pungky Sumadi, mantan Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas. Bersama Pungky, kurikulum keterampilan ini akan dirancang agar lebih terstruktur dan beririsan langsung dengan kebutuhan industri saat ini.
“Bagi yang ingin menjadi pekerja terampil, tentu harus mengikuti pelatihan yang linear dengan minat serta bakatnya. Konsep jalur vokasi inilah yang sedang kami diskusikan lebih intensif dengan Pak Pungky,” jelas Gus Ipul.
Peluang Kedua untuk Berkembang
Realistisnya kebijakan ini dirasakan betul manfaatnya oleh para siswa, salah satunya Linggar Ardiansyah (17). Remaja yang kini duduk di bangku SMA ini memiliki kisah perjuangan hidup yang berliku. Ia sempat terpaksa putus sekolah selama dua tahun demi bekerja serabutan mulai dari penyapu jalan, penjaga toilet umum, hingga kernet angkot untuk meringankan beban ekonomi ayahnya.
Bagi Linggar, kembalinya ia ke bangku Sekolah Rakyat bukan sekadar mengejar ketertinggalan pelajaran, melainkan momentum inkubasi bakat.
“Sekarang saya masuk jurusan IPA dan jadi suka matematika. Di sisi lain, saya juga banyak belajar keterampilan praktis seperti tata boga, karena kebetulan saya punya hobi memasak,” tuturnya penuh antusias.
Kisah Linggar membuktikan bahwa setiap anak memiliki jalan sukses yang berbeda. Pendekatan adaptif dari pemerintah ini dinilai sangat manusiawi karena tidak memaksakan semua lulusan menempuh jalan yang sama.
Pesan Moral di Balik Keterbatasan
Suasana keakraban malam itu semakin meriah ketika grup musik yang digawangi oleh para siswa unjuk gigi. Mereka membawakan sejumlah tembang hit, seperti “Aku Milikmu” (Dewa 19), “Saat Kau Telah Mengerti” (Virgoun), “Gema Adzan” (Tegar), hingga “Laskar Pelangi” (Nidji).
Di penghujung acara, Gus Ipul menyisipkan pesan moral yang mendalam. Ia mengingatkan para siswa untuk tidak pernah merasa rendah diri, apa pun profesi orang tua mereka baik yang berprofesi sebagai buruh kasar, pekerja bangunan, asisten rumah tangga, maupun yang sedang tidak bekerja.
“Jadikan kondisi keluarga saat ini sebagai pecutan motivasi. Manfaatkan pendidikan ini sebaik-baiknya untuk mengubah nasib dan membahagiakan orang tua kalian kelak,” pesan Gus Ipul menutup dialog.
Pada akhirnya, kesuksesan institusi Sekolah Rakyat tidak lagi sekadar diukur dari seberapa banyak ijazah yang dicetak. Tantangan terbesarnya kini adalah memastikan setiap lulusan memiliki arah hidup yang jelas: menembus kampus impian, atau terjun ke dunia kerja dengan keterampilan yang mumpuni.[]










