JAKARTA – Ekosistem akademik perguruan tinggi keagamaan di Indonesia mencatatkan lompatan bersejarah di panggung global. Berdasarkan rilis pemeringkatan Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027 pada pilar Kualitas Riset (Research Quality), empat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) secara impresif sukses mengunci posisi di jajaran sepuluh besar nasional.
Keberhasilan ini dipimpin langsung oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bertengger di peringkat pertama se-Indonesia, disusul UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada urutan kedua. Sementara itu, dua institusi lainnya, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, melengkapi dominasi tersebut dengan masing-masing mengamankan peringkat kesembilan dan kesepuluh.
Pencapaian prestisius ini disambut hangat oleh jajaran pimpinan Kementerian Agama (Kemenag). Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamaruddin Amin, memandang hasil ini sebagai bukti sahih atas transformasi kapasitas riset dosen dan peneliti di lingkungan kampus Islam negeri.
“Ini merupakan capaian yang sangat membanggakan bagi Kementerian Agama dan seluruh keluarga besar PTKIN,” tegas Kamaruddin di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Ia menekankan bahwa keberhasilan empat kampus pelopor ini harus menjadi pemantik energi bagi kampus-kampus keagamaan lainnya. “Empat PTKIN yang telah menunjukkan capaian ini diharapkan tidak hanya mempertahankan prestasinya, tetapi juga dapat memberikan penguatan kepada PTKIN lainnya, khususnya dalam membangun ekosistem penelitian yang berkualitas,” tambahnya.
Melampaui Fungsi Pengajaran Konvensional
Apresiasi senada disuarakan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Suyitno. Ia menggarisbawahi bahwa raihan di pemeringkatan THE WUR membantah stigma lama yang memosisikan perguruan tinggi keagamaan hanya berfokus pada ruang kuliah dan pengajaran normatif.
“Capaian ini menunjukkan bahwa PTKIN tidak hanya berkembang dalam aspek pendidikan dan pengajaran, tetapi juga semakin kuat dalam menghasilkan riset yang berkualitas dan memberikan kontribusi bagi masyarakat,” jelas Suyitno.
Suyitno menambahkan, Kemenag berkomitmen mengawal iklim ilmiah perguruan tinggi agar riset-riset yang diproduksi tidak berhenti sebagai tumpukan laporan di perpustakaan. Hilirisasi hasil penelitian, kemitraan akademik internasional, serta publikasi pada jurnal-jurnal bereputasi tinggi terus didorong agar menjadi solusi konkret bagi persoalan kebangsaan dan tantangan kemanusiaan global.
Tolok Ukur Dampak dan Signifikansi Ilmiah
Di sisi teknis penilaian, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag, Sahiron, menjelaskan bahwa indikator Research Quality dalam metodologi THE WUR memotret dimensi yang mendalam. Kategori ini tidak semata-mata menghitung akumulasi kuantitas artikel ilmiah, melainkan mengukur bobot sitasi, pengaruh konseptual, keunggulan metodologi, hingga resonansi dampak dari temuan penelitian tersebut.
“Ini merupakan capaian yang patut diapresiasi. UIN Sunan Kalijaga bahkan menempati posisi pertama dalam daftar tersebut dengan skor 82,8. Tiga PTKIN lainnya juga masuk 10 besar nasional. Ini menunjukkan bahwa kualitas riset PTKIN semakin diperhitungkan,” urai Sahiron.
Ia memastikan bahwa Kemenag akan terus menggulirkan program penguatan penelitian unggulan berbasis multidisiplin agar daya saing global institusi pendidikan Islam terus berkelanjutan di masa depan.
Daftar Skor 4 PTKIN di Jajaran 10 Besar Riset Nasional (THE WUR 2027):
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta – Peringkat 1 Nasional (Skor: 82,8)
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang – Peringkat 2 Nasional (Skor: 60,2)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta – Peringkat 9 Nasional (Skor: 44,2)
UIN Sunan Gunung Djati Bandung – Peringkat 10 Nasional (Skor: 43,8)










