EDUKASI

Solusi Pakar IPB Atasi Masalah Limbah Kurban Iduladha

Pakar IPB University mendorong pengelolaan limbah kurban melalui pemanfaatan kotoran dan sisa pakan menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan.

SEANTERONEWS.com – Perayaan Iduladha setiap tahunnya diiringi dengan peningkatan transaksi serta aktivitas penyembelihan hewan kurban di berbagai daerah.

Di balik nilai ibadah dan sosial yang tinggi, lonjakan volume limbah ternak yang belum tertangani secara menyeluruh kerap menjadi persoalan lingkungan yang berulang.

Apabila tidak dikelola dengan tepat, sisa aktivitas ini berpotensi mencemari ekosistem sekitar serta menimbulkan gangguan kesehatan bagi warga, terutama di wilayah perkotaan yang padat penduduk.

Akademisi dan pakar dari IPB University, Dr. Salundik, memaparkan bahwa limbah ternak selama musim kurban memiliki volume yang masif dan tersebar di banyak lokasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi penanganan yang terencana dengan memahami karakteristik limbah berdasarkan sumber lokasinya.

Karakteristik dan Klasifikasi Limbah Kurban

Dr. Salundik membagi limbah kurban menjadi dua kelompok utama, yaitu limbah dari area penampungan/penjualan dan limbah dari area penyembelihan.

Pada area penjualan, limbah didominasi oleh kotoran padat (feses) serta sisa pakan hijauan yang tidak habis dikonsumsi. Karena hewan kurban biasanya telah dikumpulkan sekitar 20 hari sebelum hari pelaksanaan, akumulasi material organik ini menjadi sangat besar.

Sebagai gambaran, sekumpulan hewan kurban yang terdiri dari 50 ekor sapi di mana masing-masing menghasilkan rata-rata 20 kilogram kotoran per hari dapat menghasilkan akumulasi kotoran hingga 20 ton selama masa penampungan pra-Iduladha.

Tanpa pembersihan berkala, tumpukan material ini akan menimbulkan bau menyengat, menarik vektor penyakit seperti lalat, serta mencemari limpasan air permukaan saat hujan.

Di sisi lain, area penyembelihan menghasilkan limbah cair dan padat yang memiliki risiko biosekuriti lebih tinggi. Limbah ini meliputi darah, isi lambung atau rumen, serta sisa organ pencernaan.

Pembuangan limbah sisa penyembelihan langsung ke selokan atau sungai tanpa penyaringan dapat mengganggu kualitas air permukaan dan memicu perkembangan bakteri patogen yang membahayakan kesehatan masyarakat sekitar.

Penanganan limbah di perkotaan sering kali terkendala keterbatasan ruang terbuka serta kurangnya fasilitas pembuangan khusus yang ramah lingkungan. Kondisi ini diperumit oleh sebaran lokasi penyembelihan mandiri yang tersebar di banyak fasilitas umum, tempat ibadah, maupun pemukiman, sehingga pengawasan dan standardisasi sanitasi sulit diterapkan secara seragam.

Konversi Limbah Organik Menjadi Pupuk Kompos

Guna mereduksi dampak pencemaran tersebut, Dr. Salundik menyarankan pemanfaatan limbah organik dari area penjualan untuk diolah menjadi produk bernilai guna, seperti pupuk kompos atau vermikompos.

Konversi kotoran dan sisa pakan menjadi pupuk organik dinilai sebagai solusi yang rasional karena ketersediaan bahan baku yang melimpah selama periode kurban.

Langkah ini tidak hanya mengurangi timbunan sampah di perkotaan, tetapi juga mendukung keberlanjutan sektor pertanian dan penghijauan perkotaan (urban farming).

Meskipun pengolahan sisa pakan dan kotoran relatif mudah dipraktikkan, Dr. Salundik mengakui bahwa pengelolaan limbah cair dan organ dalam di lokasi penyembelihan masih menghadapi berbagai hambatan logistik, mulai dari fluktuasi jumlah hewan kurban hingga keterbatasan infrastruktur penyaringan air limbah di lokasi-lokasi temporer.

Oleh karena itu, sinergi antara panitia kurban, dinas lingkungan hidup setempat, serta masyarakat sangat diperlukan untuk merancang prosedur penanganan limbah yang berkelanjutan, agar perayaan Iduladha dapat berjalan secara higienis dan minim dampak negatif bagi lingkungan sekitar.

image_print

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts