SEANTERONEWS.com – Dampak buruk emisi kendaraan bermotor di Indonesia mencapai titik yang mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari International Council on Clean Transportation (ICCT) mengungkapkan bahwa polusi udara dari sektor transportasi darat memicu satu kematian dini setiap 12 menit dan satu kasus baru asma pada anak setiap 26 menit di tanah air.
Data riset ICCT mengenai manfaat kesehatan dari kendaraan nol emisi hingga 2050 menunjukkan angka yang mencolok. Sepanjang tahun 2024 saja, emisi transportasi darat berkontribusi pada 44.700 kematian dini serta lebih dari 19.800 kasus asma baru pada anak di Indonesia. Bahkan, Indonesia kini menempati peringkat kedua di dunia untuk jumlah kasus asma anak yang berkaitan dengan emisi nitrogen dioksida (NO₂).
Kendaraan Berat: Kontributor Polusi Terbesar
Studi tersebut menyoroti adanya ketimpangan kontribusi emisi berdasarkan jenis kendaraan. Meskipun kendaraan berat (seperti truk dan bus) hanya mencakup sekitar 2 persen dari total armada transportasi darat di Indonesia, kendaraan jenis ini menyumbang lebih dari separuh total emisi NO₂ dan partikel halus PM2.5. Di sisi lain, kendaraan yang lebih ringan mendominasi emisi senyawa organik volatil (VOC) dan karbon monoksida (CO).
Lingzhi Jin dari ICCT menekankan bahwa elektrifikasi kendaraan yang ambisius bukan sekadar tren teknologi, melainkan solusi kesehatan krusial. “Jika kita menerapkan elektrifikasi kendaraan secara masif, pada tahun 2050 kita dapat mencegah 150.000 kasus asma pada anak dan mengurangi 800.000 kematian dini di Indonesia,” ujar Lingzhi.
Kesenjangan Kesehatan Global
Riset ini juga menyoroti ancaman ketimpangan kesehatan global. Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, negara berpenghasilan rendah dan menengah-bawah diproyeksikan mengalami lonjakan kematian dini akibat transportasi darat hingga lebih dari 200 persen pada 2050. Sebaliknya, negara berpenghasilan tinggi justru diprediksi mengalami penurunan kematian dini sebesar 48 persen.
Direktur Senior ICCT, Josh Miller, menyatakan bahwa elektrifikasi adalah instrumen terkuat untuk memutus kaitan antara pertumbuhan armada kendaraan dengan beban kesehatan masyarakat. Secara global, langkah ambisius ini berpotensi mencegah hingga 9 juta kematian dini dalam rentang waktu hingga tahun 2050.
Perlunya Kebijakan Terpadu
Prof. Budi Haryanto, ahli kesehatan lingkungan, menekankan bahwa pengendalian emisi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan sektoral yang terpisah. “Pengendalian emisi harus terpadu melalui kebijakan transportasi, transisi energi, dan pemantauan kualitas udara yang ketat,” ucap Prof. Budi.
Selain mempercepat transisi ke kendaraan nol emisi, langkah pelengkap seperti pengetatan standar emisi, penggunaan bahan bakar yang lebih bersih, serta program peremajaan armada tua melalui retrofit dan penetapan zona rendah emisi menjadi krusial. Kebijakan ini dianggap mampu memberikan manfaat kesehatan jangka pendek yang signifikan, sekaligus menjadi jalan terbaik untuk secara bersamaan menanggulangi perubahan iklim dan krisis polusi udara yang mengancam derajat kesehatan masyarakat Indonesia di masa depan.[]










