BREAKING

KESEHATAN

WHO Larang Penutupan Perbatasan Meski Ebola Jadi Darurat

WHO tegaskan penutupan perbatasan bukan solusi hadapi wabah Ebola di Kongo dan Uganda. Simak peringatan risiko dan langkah penanganan darurat global ini.

SEANTERONEWS.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menetapkan wabah Ebola jenis Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global. Meski demikian, WHO mengeluarkan instruksi tegas agar seluruh negara tidak mengambil langkah penutupan perbatasan, pembatasan perjalanan, maupun hambatan perdagangan.

Dalam pernyataan resminya pada Selasa (19/2/2026), WHO menekankan bahwa kebijakan penutupan wilayah tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sebaliknya, langkah tersebut dinilai justru kontraproduktif dan berpotensi memperburuk situasi.

Risiko di Balik Penutupan Perbatasan

WHO memperingatkan bahwa pembatasan perjalanan yang ketat justru dapat memicu perpindahan penduduk melalui jalur-jalur ilegal atau tidak resmi. Kondisi ini membuat otoritas kesehatan semakin sulit memantau pergerakan orang yang berpotensi membawa virus.

“Tidak ada negara yang boleh menutup perbatasannya atau memberlakukan restriksi perjalanan dan perdagangan. Langkah tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah,” tegas perwakilan WHO.

Situasi Wabah yang Mengkhawatirkan

Hingga 16 Mei 2026, data menunjukkan situasi yang cukup serius:

Kongo (Provinsi Ituri): 8 kasus terkonfirmasi, 246 kasus suspek, dan 80 kematian suspek.

Uganda (Kampala): 2 kasus positif (impor dari Kongo) dengan 1 korban jiwa.

Kekhawatiran dunia kian meningkat karena adanya laporan kematian empat tenaga kesehatan dengan gejala demam berdarah Ebola. Hal ini mengindikasikan adanya penularan di fasilitas kesehatan yang perlu segera dimitigasi. Selain itu, belum tersedianya vaksin atau terapi khusus yang disetujui untuk jenis Bundibugyo membuat penanganan wabah ini jauh lebih menantang dibandingkan varian Ebola lainnya.

Tantangan dan Seruan WHO

Faktor ketidakstabilan keamanan, mobilitas penduduk yang tinggi, serta krisis kemanusiaan di timur Kongo menjadi tantangan berat bagi upaya pengendalian wabah. WHO menilai terdapat risiko penyebaran lokal dan regional yang signifikan jika respons cepat tidak dilakukan.

WHO mendesak pemerintah Kongo dan Uganda untuk memprioritaskan langkah-langkah berikut:

Memperkuat sistem pelacakan kontak erat.

Meningkatkan kapasitas laboratorium nasional.

Memperketat protokol pengendalian infeksi di rumah sakit.

Meningkatkan edukasi masyarakat terkait pencegahan virus.

Negara-negara tetangga juga diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan di tingkat perbatasan guna mendeteksi dini setiap kemungkinan penyebaran lintas batas tanpa harus memutus akses ekonomi dan mobilitas masyarakat secara menyeluruh.

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts