SEANTERONEWS.com – Rekaman video yang memperlihatkan adu argumentasi antara sejumlah mahasiswa dengan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono serta Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid di area kampus sempat memicu perhatian publik. Alih-alih menyudutkan pemerintah, momentum konfrontasi tersebut dinilai justru memberikan keuntungan tersendiri bagi kedua menteri sekaligus memperkuat citra positif kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Analisis ini dikemukakan oleh pengamat politik dari Universitas Siliwangi, Randi Muchariman. Menurutnya, lingkungan perguruan tinggi idealnya menjadi wadah pertukaran gagasan yang ditopang oleh akurasi data dan kajian ilmiah yang mendalam. Sayangnya, dalam insiden yang beredar luas di media sosial tersebut, interaksi yang terbangun dirasa lebih menyerupai debat kusir ketimbang sebuah diskusi akademis yang konstruktif.
“Ketika ada ruang bagi mahasiswa untuk menguji kebijakan pejabat publik secara ilmiah, yang terjadi justru sebatas adu argumen emosional tanpa kedalaman materi. Ini mengindikasikan bahwa kajian yang dipersiapkan oleh pihak mahasiswa belum matang,” ungkap Randi, Rabu (17/6/2026).
Keterbukaan Pejabat Publik Diapresiasi
Randi menambahkan bahwa keberanian dan kesediaan para menteri untuk hadir langsung ke tengah-tengah civitas akademika patut diapresiasi. Kehadiran mereka di ruang publik, termasuk di kampus, merepresentasikan keterbukaan pemerintah terhadap kritik serta kesiapan mereka dalam mempertanggungjawabkan kebijakan negara di hadapan publik.
Namun demikian, akademisi ini menyayangkan sikap sebagian mahasiswa yang dirasa kurang mencerminkan tradisi intelektual yang kuat dalam forum tersebut. Randi juga tidak menampik kemungkinan adanya pengaruh kepentingan eksternal tertentu yang melatarbelakangi aksi konfrontasi mahasiswa, baik yang disadari maupun tidak.
“Dalam spektrum yang lebih luas, sangat mungkin ada tarik-menarik kepentingan, pengaruh dominasi wacana, atau hegemoni tertentu di baliknya. Namun secara pragmatis, dalam dinamika ini posisi kedua menteri justru lebih unggul. Hal tersebut secara langsung mengerek penilaian positif terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo,” tambah akademisi yang juga merupakan pendiri kanal YouTube Akal Politik itu.
Otokritik bagi Dunia Pendidikan Tinggi
Bagi dunia akademis sendiri, fenomena ini dipandang Randi sebagai momentum refleksi dan evaluasi internal yang sangat penting bagi institusi pendidikan tinggi. Ia menekankan perlunya perbaikan sistem pembinaan agar mahasiswa benar-benar memiliki kapasitas berpikir kritis yang didasari oleh metodologi ilmiah yang kokoh.
“Sebagai bagian dari civitas akademika, saya memandang kejadian ini sebagai bentuk otokritik bagi para pengajar dan pihak universitas. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar proses edukasi serta pelatihan cara berpikir taktis yang bersandarkan data pada mahasiswa dapat ditingkatkan secara konsisten,” tutup Randi.










