SEANTERONEWS.com – Pada era 1970 hingga 1980-an, Kamboja adalah sinonim dari penderitaan. Tragedi Killing Fields di bawah rezim Khmer Merah serta perang saudara yang berkepanjangan telah mengubah negara tersebut menjadi kawah candradimuka konflik Asia Tenggara. Di tengah kebuntuan internasional, Indonesia muncul sebagai arsitek perdamaian melalui sosok diplomat legendaris, Ali Alatas.
Ali Alatas, yang menjabat Menteri Luar Negeri RI pada 1988, memahami bahwa konflik Kamboja tidak bisa diselesaikan hanya dengan tekanan militer atau retorika politik kaku. Ia percaya pada kekuatan “diplomasi manusiawi,” sebuah pendekatan yang mengedepankan dialog informal daripada protokol formal yang penuh ketegangan.
Melanjutkan gagasan cocktail diplomacy dari pendahulunya, Mochtar Kusumaatmadja, Ali Alatas menginisiasi Jakarta Informal Meeting (JIM) pada tahun 1988. Di sini, Ali Alatas menciptakan suasana yang tidak lazim dalam forum kenegaraan. Tidak ada meja konferensi yang kaku atau pidato yang sarat konfrontasi. Para pemimpin faksi yang bertikai justru dipertemukan dalam suasana santai, ditemani kopi dan jamuan makan.
Langkah ini adalah kunci. Ali Alatas menyadari bahwa para pemimpin perang akan lebih mudah melunakkan ego mereka saat berada dalam suasana informal. Dengan kesabaran dan kelihaian melobi, ia perlahan membangun kepercayaan di antara pihak-pihak yang selama bertahun-tahun saling angkat senjata.
Keberhasilan JIM menjadi fondasi bagi perundingan yang lebih besar. Ali Alatas kemudian menjadi tokoh sentral dalam Konferensi Perdamaian Paris. Kecerdasan dan ketenangannya diakui dunia internasional sebagai faktor utama yang mampu menyatukan kepentingan negara-negara besar di tengah kerasnya konflik Kamboja.
Puncak dari perjuangan tersebut tercapai pada 23 Oktober 1991, ketika Perjanjian Damai Paris ditandatangani. Konflik panjang Kamboja resmi berakhir, membuka babak baru bagi rekonstruksi negara di bawah pengawasan PBB.
Dunia internasional memberikan apresiasi tinggi kepada Indonesia atas keberhasilan diplomasi ini. Sebagai wujud penghormatan abadi, pemerintah Kamboja mengabadikan nama Ali Alatas sebagai nama salah satu jalan di negara mereka.
Ali Alatas wafat pada 2008, namun kisahnya tetap hidup. Ia membuktikan bahwa diplomasi adalah sebuah seni membangun kepercayaan. Nama besar Ali Alatas kini dikenang bukan hanya sebagai diplomat hebat, tetapi juga sebagai penyelamat yang membuktikan bahwa dialog santai mampu menghentikan perang dan menyelamatkan jutaan nyawa tanpa sebutir peluru pun diletuskan.[]
Sumber: goodnewsfromindonesia.id











