SEANTERONEWS.com – Penyerahan kompensasi dana Baitul Asyi di Tanah Suci bagi jemaah haji asal Aceh tidak lagi sekadar menjadi tradisi rutin tahunan. Momentum ini dipandang sebagai pesan spiritual yang mendalam mengenai bagaimana komitmen keikhlasan berwakaf mampu melintasi batas waktu dan memberikan dampak nyata bagi generasi penerus.
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sekaligus Ketua PWNU Aceh, Teungku H. Faisal Ali (Abu Sibreh), menilai bahwa keberlangsungan penyaluran dana Baitul Asyi membuktikan sistem wakaf dalam syariat Islam memiliki daya dukung sosial dan ekonomi yang sangat masif.
Menurut Abu Sibreh, inisiatif mulia yang dirintis oleh ulama terpandang Habib Bugak Al-Asyi pada era Kesultanan Aceh Darussalam masa lampau mencerminkan keindahan ajaran Islam sekaligus pilar penguat perekonomian umat.
Memasuki musim haji tahun 2026, tata kelola dana abadi Baitul Asyi kembali menyalurkan kompensasi akomodasi dengan nilai akumulatif mencapai Rp51,5 miliar (dengan estimasi kurs 1 Riyal setara Rp4.700).
Pendistribusian dana kompensasi ini diberikan kepada 5.484 jemaah haji asal Aceh yang tergabung dalam 14 kelompok terbang (kloter). Masing-masing jemaah menerima uang tunai sebesar 2.000 Riyal Arab Saudi (SAR), yang menjadi standar nominal baru sejak diberlakukan pada musim haji 2025 lalu.
Penyerahan tahap pamungkas untuk kloter 13 dan 14 dipimpin oleh Nazir Baitul Asyi, Syekh Abdurrahman Al-Asyi, bertempat di Masjid Hotel Abraj Al-Wahdah di wilayah Jarwal, Makkah. Agenda penyerahan ini turut disaksikan oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Haji RI, anggota DPR RI Nasir Djamil, serta Abu Paya Pasi selaku Imam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
Meneladani Gerakan Wakaf Produktif
“Fenomena ini mencerminkan berkah sosial yang nyata dari ibadah wakaf. Habib Bugak Al-Asyi telah memberikan teladan konkret bahwa kekayaan yang diserahkan demi kemaslahatan publik dengan ketulusan hati akan membuahkan manfaat tanpa putus . Hingga hari ini, para jemaah haji asal Aceh masih menikmati keberkahan tersebut,” urai Abu Sibreh pada Sabtu (30/5/2026).
Kendati demikian, Abu Sibreh mengingatkan agar masyarakat Serambi Mekkah tidak sekadar larut dalam kebanggaan romantisme sejarah. Warisan berharga dari Baitul Asyi dinilai harus menjadi pemicu bagi generasi modern untuk menginisiasi gerakan wakaf produktif yang baru, mengingat Aceh memiliki rekam jejak yang kuat dalam sektor pendidikan Islam, dayah, dan filantropi sosial.
Ia pun mengapresiasi kinerja jajaran pengelola wakaf Baitul Asyi yang senantiasa menjaga transparansi, amanah, dan akuntabilitas demi kemudahan para tamu Allah asal Aceh.
Apresiasi senada dikemukakan oleh Menteri Haji RI, K.H. Mochamad Irfan Yusuf, yang memantau langsung prosesi penyerahan di Makkah. Ia mengaku kagum terhadap visi jangka panjang yang ditunjukkan oleh Habib Bugak Al-Asyi ketika memutuskan mewakafkan aset tanah dan bangunannya di dekat Masjidil Haram untuk memuliakan jemaah dari tanah kelahirannya.
“Kami berharap langkah visioner dan mulia dari skema wakaf Habib Bugak Al-Asyi ini dapat menjadi sumber inspirasi yang direplikasi oleh wilayah atau provinsi lain di Indonesia,” tutur Menhaj.
Petugas Haji Aceh, Teungku Khairul Huda, menyampaikan bahwa para jemaah menerima dana kompensasi tersebut dengan rasa haru dan syukur. Selain sangat menopang kebutuhan finansial jemaah selama berada di Makkah, penyaluran ini menjadi bukti empiris bahwa instrumen keuangan sosial Islam yang dikelola secara profesional mampu menghadirkan manfaat berkelanjutan lintas generasi.[]










