SEJARAH

Mantan Karo Humas Kenang Sisi Lain Almarhum Abu Doto

Kepergian mantan Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah (Abu Doto) menyisakan duka sekaligus catatan kenangan mendalam dari mantan Kepala Biro Humas yang pernah mendampinginya.

BANDA ACEH – Berpulangnya mantan Gubernur Aceh periode 2012–2017, dr. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto, pada Sabtu (13/6/2026) di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, mengundang rasa duka mendalam dari berbagai kalangan. Di balik perjalanan karier politiknya yang panjang, tersimpan catatan kenangan personal yang emosional dari orang-orang terdekatnya, termasuk mantan Kepala Biro Humas (Karo Humas) Setda Aceh yang pernah mendampingi masa kepemimpinannya.

Dalam catatan memoriam yang dibagikan, eks Karo Humas tersebut mengisahkan interaksi terakhirnya bersama sang mantan gubernur sekitar dua pekan sebelum almarhum wafat. Saat itu, ia sedang menjenguk salah satu tokoh politik Aceh yang dirawat di ruang Zamzam 2 RSUZA, dan mendapati Abu Doto juga tengah menjalani perawatan medis di lokasi yang sama.

Pertemuan singkat tersebut diwarnai dengan dialog hangat menggunakan bahasa daerah yang khas. Almarhum sempat berseloroh mengingat masa-masa kerja mereka dahulu, seraya menceritakan dengan nada kelakar bahwa dirinya dirawat akibat gangguan pencernaan ringan sehabis mengonsumsi susu.

Awal Kedekatan Sejak Era Perdamaian

Hubungan emosional antara keduanya sebenarnya telah terajut sejak masa awal perdamaian Aceh pasca-MoU Helsinki. Saat itu, penulis memoar tersebut masih aktif bekerja sebagai jurnalis lapangan. Komunikasi intensif di antara mereka semakin terbangun menjelang kepulangan bersejarah deklarator GAM, Wali Nanggroe Hasan Tiro, ke Aceh pada tahun 2008. Kedekatan inilah yang membuat almarhum menyematkan panggilan akrab “Tgk Rasa Su” kepadanya.

Sempat terputus komunikasi karena kesibukan masing-masing, takdir kembali mempertemukan mereka pada apel Idulfitri tahun 2013. Pertemuan spontan di barisan jabat tangan tersebut menjadi titik balik karier birokrasinya, di mana almarhum secara khusus memintanya bergabung ke lingkungan kerja dinas terdekat.

Ia kemudian dipercaya mengemban posisi Kabag Pidato dan Risalah Pimpinan sekaligus menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas. Pada April 2014, ia secara resmi dilantik sebagai Karo Humas definitif.

Dinamika Politik dan Masa-Masa Sulit

Menjabat sebagai juru bicara pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Abu Doto diakui penuh dengan dinamika politik yang tajam. Ia kerap terjebak di tengah faksi politik yang saling berseberangan serta dituding sebagai loyalis Wakil Gubernur saat itu, Muzakir Manaf (Mualem). Tuduhan tersebut membuatnya kerap menjadi target serangan politik dari pihak pembisik internal istana gubernur.

Salah satu ujian terberat yang dikenang adalah ketika bergulirnya kebijakan perubahan status PT Arun menjadi fasilitas regasifikasi pada pertengahan 2014. Aceh saat itu berhak atas saham Participating Interest (PI) sebesar 30 persen melalui PT Perta Arun Gas (PAG).

Meskipun Menko Perekonomian saat itu, Chairul Tanjung, sudah turun tangan langsung untuk membantu prosesnya, upaya pencarian mitra investasi yang tepat berjalan sangat alot akibat banyaknya silang pendapat di lingkaran terdekat gubernur.

Puncaknya terjadi pada awal Oktober 2014, ketika tim migas internal mendesak dilaksanakannya konferensi pers besar bersama media nasional. Namun, setibanya di lokasi, Abu Doto mendadak enggan memberikan pernyataan resmi. Situasi sulit ini memicu ketegangan internal yang berujung pada pencopotan sang Karo Humas dari jabatannya tepat pada hari pelantikan Presiden Joko Widodo pada 20 Oktober 2014.

Refleksi Akhir dan Penghormatan Tulus

Pasca-pencopotan tersebut, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie. Meski hubungan kerja setelah itu dirasa mendingin, ia mengaku tetap menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada sang mantan gubernur. Setiap kali berpapasan dalam berbagai kesempatan, ia selalu mencium tangan Abu Doto sebagai tanda takzim.

Dari seluruh perjalanan berliku tersebut, ia memetik sebuah hikmah mendalam. Di matanya, Abu Doto adalah sosok pemimpin yang memiliki ketulusan hati yang luar biasa, meskipun ketulusan tersebut kerap dimanfaatkan oleh lingkaran pengaruh dan pembisik di sekitarnya.

Menutup catatan memoriamnya, mantan birokrat Aceh ini memanjatkan doa tulus agar segala dedikasi, amal ibadah, dan pengabdian dr. Zaini Abdullah semasa hidupnya diterima dengan baik di sisi Allah SWT, serta dimaafkan segala kekhilafannya selama memimpin Serambi Mekkah.

image_print
author avatar
Saumi R News Tv

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts