OTOMOTIF

Gesits dan Pelajaran Pahit: Mengapa Negara Sering Mengabaikan Karya yang Lahir dari Nol?

Jakarta — Transisi energi hijau di Indonesia sering kali diterjemahkan sebatas angka pertumbuhan penjualan dan seremoni peresmian pabrik. Di balik gemuruh hilirisasi dan masuknya berbagai pemain baru ke pasar kendaraan listrik, ada sebuah pertanyaan mendasar yang sengaja dihindari, di mana keberpihakan negara terhadap mereka yang pertama kali membuka jalan?

​Jika ditarik ke belakang, sejarah motor listrik nasional tidak dimulai dari karpet merah panggung istana atau gelontoran investasi instan.

Ia lahir dari ruang-ruang laboratorium yang sunyi, dari keringat para akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan dari kerja keras insinyur lokal yang merintis Gesits dari lembaran kertas kosong sejak 2015.

​Menghukum Sang Pionir dengan Standar Ganda
​Membangun industri otomotif from scratch di tengah ekosistem domestik yang belum siap adalah sebuah perjudian besar.

Gesits membuktikan bahwa anak bangsa mampu menciptakan produk berstandar tinggi dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang melampaui ketentuan, bahkan berpayung di bawah BUMN.

​Namun, alih-alih dirawat, dibesarkan, dan dilindungi layaknya aset strategis negara, sang pionir justru dibiarkan megap-megap menghadapi kerasnya pasar bebas.

Ketika pemerintah hari ini dengan mudahnya memberikan panggung utama dan karpet merah kepada program-program baru yang mengandalkan platform instan, publik disuguhkan sebuah pemandangan yang ironis: negara tampak lebih menyukai hasil jadi ketimbang menghargai proses panjang.

​Ironisme ini semakin terasa ketika dalam peluncuran Motor Listrik Nasional (MoLiNas) baru-baru ini di Cikarang, sebagaimana dirilis oleh situs resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia pada 13 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada berbagai unsur yang terlibat, termasuk dunia akademis. Presiden Prabowo dalam sambutannya menyatakan:

​“Hari ini adalah hari yang sangat penting. Di sini saya ingin ucapkan terima kasih saya, penghargaan saya kepada semua unsur. Dari perusahaan-perusahaan swasta, para entrepreneur, para wiraswasta, dari BUMN-BUMN, dari dunia akademis, yang menghasilkan para pakar yang merupakan inti daripada research and development, dari Litbang.” kata Presiden Prabowo.

​Pernyataan resmi kepala negara tersebut justru memunculkan pertanyaan publik yang menggelitik sekaligus kritis, jika memang peluncuran tersebut mengklaim melibatkan dunia akademis dan pakar Litbang, di mana letak rekam jejak riset aslinya?

Bukankah publik tahu persis bahwa riset motor listrik berbasis kampus dan lembaran kertas kosong yang murni dari anak bangsa selama bertahun-tahun melekat pada sejarah panjang Gesits, sementara produk baru ini menggunakan platform yang sudah siap pakai?

​Kemandirian teknologi (technological sovereignty) tidak akan pernah tercapai jika negara terus bersikap ambigu. Kebijakan hilirisasi sering kali terjebak dalam jebakan simbolisme mengejar volume produksi massal dan pencitraan politik jangka pendek, tanpa peduli apakah penguasaan teknologi intinya benar-benar berakar dari riset orisinal atau sekadar mengemas ulang platform yang sudah ada.

​Bahaya Mentalitas “Jalan Pintas”
​Sikap dingin pemerintah terhadap Gesits menyimpan pesan yang berbahaya bagi ekosistem inovasi masa depan.

Bagaimana bisa kita berharap lahirnya para penemu, insinyur, dan periset baru dari kampus-kampus lokal, jika karya mereka yang sudah susah payah merintis jalan dari nol justru ditinggalkan begitu saja begitu ada opsi yang lebih “siap pakai”?

​Negara-negara yang hari ini menjadi raksasa industri dunia tidak lahir dari mentalitas jalan pintas. Mereka merawat produk pionir mereka dengan proteksi ketat, subsidi yang tepat sasaran, serta konsistensi kebijakan yang berpihak pada karya orisinal anak negeri, betapapun terjalnya kurva pembelajaran di tahun-tahun awal.
​
Kedaulatan Bukan Sekadar Angka
​Sudah saatnya diskursus mengenai “Kendaraan Listrik Nasional” dibongkar secara jujur.

Kedaulatan industri bukan diukur dari seberapa megah seremoni peluncurannya atau seberapa cepat target penjualan massal tercapai, melainkan dari seberapa besar konsistensi negara dalam melindungi keringat anak bangsanya sendiri.

​Jika Gesits yang lahir dari riset murni, keringat insinyur lokal, dan rahim BUMN saja bisa terpinggirkan di rumahnya sendiri, jangan heran jika kelak tidak ada lagi anak bangsa yang mau repot-repot merintis inovasi dari nol. Pada akhirnya, bangsa yang melupakan akar perintisnya, sedang bersiap menjadi penonton abadi di negeri sendiri.(*)

image_print

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts