Malaysia — Jelang bergulirnya MotoGP Malaysia, polemik klasik kembali mencoreng reputasi Sirkuit Sepang. Alih-alih menyuguhkan standar lintasan kelas dunia yang aman bagi kasta tertinggi balap motor, MotoGP Sepang justru menyambut para rider dengan kondisi aspal yang compang-camping dan hancur di berbagai titik krusial.
Keluhan paling frontal datang dari para pebalap papan atas yang merasa keselamatan mereka diabaikan oleh pengelola. Salah satu kritik paling telak dilontarkan oleh pebalap VR46, Fabio Di Giannantonio, yang blak-blakan menyamakan kondisi sirkuit ikonik tersebut dengan arena off-road ekstrem akibat serpihan batu yang terkelupas.
“Ini seperti trek motocross. Kami harus mengenakan pelindung dada. Ada banyak kerikil yang mental dari aspal,” ujar Di Giannantonio, berdasarkan laporan Crash yang dilihat Sabtu (31/10/2026).
Ia bahkan mengaku terkena hantaman kerikil kecil saat melakukan latihan start di belakang pebalap lain.
Senada dengan keluhan tersebut, talenta muda sensasional, Pedro Acosta, turut melontarkan kritik pedas terhadap degradasi lintasan yang semakin memprihatinkan dari tahun ke tahun.
Menurutnya, masalah utama di Sirkuit Sepang bukan sekadar gundukan, melainkan material aspal yang mudah lepas dan merusak daya cengkeram motor.
“Setiap tahun, sepertinya aspal di sini semakin buruk. Tidak banyak gundukan, tetapi saat ban menyentuh aspal, situasinya menjadi sangat sulit. Bahkan, ada bagian-bagian aspal yang terlepas,” ungkap Acosta, dari laporam The Race.
Kritik tajam turut dialamatkan kepada pihak pengelola yang gagal merealisasikan perbaikan infrastruktur sebelum rangkaian MotoGP Malaysia resmi dihelat.
Alih-alih berbenah, pembiaran terhadap permukaan lintasan yang compang-camping ini kian memperparah risiko bagi para pebalap yang harus memacu kendaraannya hingga batas maksimal.
Ketika ajang MotoGP Sepang seharusnya menjadi pameran kecepatan dan teknologi mutakhir yang menjamin aspek keselamatan, para pengambil kebijakan justru membiarkan para rider bertaruh nyawa di atas lintasan bobrok.
Jika manajemen Sirkuit Sepang terus abai, insiden fatal akibat buruknya kualitas aspal tinggal menunggu waktu untuk meledak.(*)











