SEANTERONEWS.com – Dunia internasional kini tengah menahan napas menyusul laporan kesehatan peraih Nobel Perdamaian 2023, Narges Mohammadi, yang kian memburuk. Aktivis hak asasi manusia asal Iran tersebut dikabarkan sedang berjuang demi nyawanya setelah dirawat di rumah sakit bawah penjagaan ketat selama lima hari terakhir akibat kondisi jantung yang akut.
“Kami tidak hanya memperjuangkan kebebasan Narges; kami sedang berjuang agar jantungnya tetap berdetak,” ujar Chirinne Ardakani, pengacara Mohammadi yang berbasis di Paris, dalam sebuah konferensi pers darurat pada Rabu (6/5/2026). Ia menegaskan bahwa kliennya kini berada dalam kondisi “antara hidup dan mati”.
Degradasi Kesehatan yang Mengkhawatirkan
Mohammadi (54) telah menghabiskan sebagian besar waktunya dalam dua dekade terakhir keluar-masuk penjara akibat aktivitasnya dalam membela hak-hak perempuan dan mengecam Republik Islam Iran. Penangkapan terbarunya terjadi pada Desember lalu setelah ia melayangkan kritik keras saat pemakaman seorang pengacara.
Menurut laporan tim pendukungnya, Mohammadi mengalami dua serangan jantung yang dicurigai terjadi pada 24 Maret dan 1 Mei di Penjara Zanjan, Iran Utara. Sejak insiden terbaru, ia dilarikan ke rumah sakit namun tetap berada di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.
Kondisi fisik Mohammadi dilaporkan mengalami penurunan drastis. Berat badannya menyusut hingga 20 kilogram, ia mengalami kesulitan berbicara, dan penampilannya disebut “tidak lagi dapat dikenali” dibandingkan sebelum penangkapan terakhirnya.
Desakan Evakuasi Medis ke Teheran
Jonathan Dagher dari kelompok kebebasan pers Reporters Without Borders (RSF) menyerukan tindakan segera dari komunitas internasional. “Ini pertama kalinya kami menyatakan bahwa ia berada di ambang kematian. Kita harus bertindak sebelum terlambat,” tegasnya.
Pihak keluarga dan tim hukum mendesak agar Mohammadi segera dipindahkan ke Teheran untuk mendapatkan perawatan dari tim medis pribadinya. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda dari pemerintah Iran untuk memindahkan sang aktivis dari penjara di Zanjan.
Harapan pada Diplomasi Prancis
Suami dan dua anak kembar Mohammadi saat ini menetap di Paris. Hal ini mendorong tim hukumnya untuk mendesak Kementerian Luar Negeri Prancis serta Presiden Emmanuel Macron agar mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Teheran.
“Kami mengharapkan Presiden Macron untuk mengambil posisi yang kuat. Saya rasa ini bukan sesuatu yang berlebihan mengingat nyawa seorang laureat Nobel sedang terancam,” tambah Ardakani.
Kasus Narges Mohammadi kembali menjadi sorotan tajam dunia terhadap kondisi hak asasi manusia di Iran. Sebagai simbol perlawanan dan keberanian, keselamatan Mohammadi kini menjadi ujian bagi diplomasi internasional dalam melindungi para pejuang kebebasan di wilayah Timur Tengah.










