SEANTERONEWS.com – Memasuki pekan kedua persidangan antara Elon Musk dan OpenAI, perhatian publik kini tertuju pada Greg Brockman, Presiden OpenAI. Dalam kesaksiannya yang berlangsung intens, fokus utama beralih pada sebuah bukti yang sangat personal: diary atau jurnal pribadi milik Brockman.
Gugatan Elon Musk berpusat pada tuduhan bahwa Brockman bersama CEO OpenAI, Sam Altman, telah melanggar perjanjian pendirian perusahaan dengan mengubah status dari organisasi nirlaba (non-profit) menjadi entitas yang mencari keuntungan (for-profit). Musk menuduh keduanya melakukan penipuan untuk memperkaya diri sendiri dan menuntut ganti rugi sebesar $134 miliar.
Bocoran Diary: Ambisi di Balik Layar
Jurnal pribadi Brockman yang ditulis sekitar tahun 2015 menjadi senjata utama pengacara Musk. Salah satu kutipan yang paling memicu perdebatan adalah tulisan Brockman yang berbunyi: “Secara finansial, apa yang bisa membawa saya ke angka $1 miliar?”
Pengacara Musk, Steven Molo, menuding tulisan tersebut membuktikan bahwa Brockman memiliki niat terselubung untuk mengambil keuntungan pribadi sejak awal. Namun, Brockman menepis tuduhan itu dengan menyatakan bahwa kutipan tersebut hanyalah “aliran kesadaran” (stream of consciousness) yang tidak bermaksud mencerminkan rencana bisnis nyata, melainkan sekadar keinginan untuk memiliki strategi pendapatan bagi perusahaan di luar donasi.
Kutipan lain yang tak kalah kontroversial menyebutkan peran Musk: “Akan salah jika mencuri non-profit darinya… itu akan menjadi kebangkrutan moral. Dan dia (Musk) benar-benar bukan orang bodoh.” Di depan hakim, Brockman bersikeras bahwa mereka selalu jujur kepada Musk mengenai niat pengembangan perusahaan.
Drama di Mansion Berhantu
Dalam kesaksiannya pada Selasa (5/5/2026), Brockman juga menceritakan titik balik hubungan mereka pada tahun 2017. Setelah tim AI OpenAI memenangkan kompetisi video game bergengsi, Musk mengundang mereka untuk merayakan kemenangan di sebuah “mansion berhantu” miliknya di San Francisco.
Brockman bersaksi bahwa dalam pertemuan santai yang dihadiri oleh Amber Heard kekasih Musk saat itu pembicaraan mengenai transisi OpenAI menjadi perusahaan for-profit mulai dibahas secara serius. Namun, pasca perayaan tersebut, keretakan mulai muncul. Musk dikabarkan menuntut pembagian ekuitas yang lebih besar karena merasa dirinya adalah pendiri paling berpengaruh.
Pecahnya Kongsi dan Perebutan Kendali
Brockman menggambarkan suasana tegang pada tahun 2018 ketika Musk akhirnya meninggalkan dewan direksi. Menurut kesaksiannya, Musk sempat mengancam akan mendirikan perusahaan AI tandingan hanya dengan “satu cuitan” dan menuntut agar semua orang tahu bahwa dia yang memegang kendali.
“Dia paham roket, dia paham mobil listrik, tapi dia tidak paham AI,” ujar Brockman saat menjelaskan alasan penolakan tim OpenAI terhadap kendali penuh Musk. Kepergian Musk pada tahun 2018 disebut Brockman membawa rasa “lega sekaligus kesedihan” yang menandai berakhirnya sebuah era, namun sekaligus membebaskan OpenAI untuk berkembang lebih jauh.
Hingga saat ini, pihak OpenAI menyangkal seluruh klaim Musk dan menyebut sang bos Tesla sebagai mantan pendiri yang sakit hati karena gagal mengambil alih kendali perusahaan di masa lalu. Persidangan ini diprediksi akan terus memanas seiring dengan semakin banyaknya bukti komunikasi internal yang dibuka ke publik.










