BREAKING

BISNIS

Harga Minyak Dunia Turun 4% Saat Tensi Timur Tengah Mereda

Harga minyak dunia anjlok hingga 4% menyusul meredanya ketegangan di Selat Hormuz. Simak analisis dampak gencatan senjata AS-Iran terhadap harga Brent dan WTI.

SEANTERONEWS.com – Harga minyak mentah dunia mencatatkan koreksi tajam pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan di jalur krusial Selat Hormuz serta klaim bertahannya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent merosot sebesar 4,57 Dolar AS atau sekitar 4% ke level 109,87 Dolar AS per barel. Tren serupa diikuti oleh minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), yang melemah 4,15 Dolar AS menjadi 102,27 Dolar AS per barel.

Analis pasar energi menilai pelemahan ini merupakan kombinasi dari respons positif terhadap perkembangan geopolitik dan aksi ambil untung (profit taking) setelah harga sempat reli tajam pada pekan sebelumnya.

Firma konsultan energi, Ritterbusch and Associates, mencatat bahwa optimisme pemerintahan Donald Trump terkait stabilitas gencatan senjata dengan Teheran menjadi penekan utama harga. “Penurunan ini juga merupakan koreksi teknikal yang wajar setelah kenaikan kuat dalam sepekan terakhir,” tulis lembaga tersebut dalam catatan resminya.

Meski situasi di lapangan dilaporkan masih rapuh, keberhasilan dua kapal melintasi Selat Hormuz dengan aman menjadi sinyal positif bagi jalur pelayaran global. Menteri Pertahanan AS bahkan menegaskan bahwa pengamanan di jalur logistik vital tersebut kini mulai terkendali.

Di tengah laporan penurunan harga, dinamika di Timur Tengah belum sepenuhnya stabil. Uni Emirat Arab (UEA) mengklaim adanya serangan rudal dan drone yang dituduhkan kepada Iran, meski pihak Teheran membantah keras klaim tersebut.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang menyebut kekuatan militer Iran kian melemah. Trump mendesak Teheran untuk segera menyerah dan mengklaim bahwa sebenarnya Iran tengah berupaya mencapai kesepakatan secara rahasia.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB mulai melakukan pembahasan mengenai draf resolusi baru terhadap Iran. Langkah ini membuka potensi sanksi tambahan hingga opsi penggunaan kekuatan militer jika ancaman terhadap keamanan pelayaran internasional terus berlanjut.

Kini, fokus pelaku pasar beralih pada rilis data fundamental dari Amerika Serikat. Para analis memproyeksikan adanya penarikan cadangan minyak mentah domestik sebesar 3,3 juta barel untuk pekan lalu.

Jika estimasi tersebut akurat, hal ini akan menandai penurunan cadangan selama dua pekan berturut-turut sejak awal tahun. Data inventaris ini diprediksi akan menjadi penentu arah pergerakan harga minyak selanjutnya, apakah akan melanjutkan koreksi atau kembali memantul (rebound) di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts