BREAKING

BISNIS

Trump Luncurkan “Project Freedom”, Harga Minyak Dunia Mulai Melandai

Harga minyak dunia turun ke kisaran 107 Dolar AS per barel setelah Donald Trump meluncurkan Project Freedom untuk mengawal kapal di Selat Hormuz. Simak ulasannya.

SEANTERONEWS.com – Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan langkah strategis untuk mengatasi kemacetan jalur maritim di Timur Tengah. Pemerintah AS menyatakan komitmennya untuk membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz melalui operasi militer dan pengawalan yang diberi nama “Project Freedom”.

Berdasarkan data pasar pada Senin, 4 Mei 2026, harga minyak mentah Brent terpantau turun ke level 107 Dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) kini berada di kisaran 101 Dolar AS per barel.

Dalam pernyataannya, Presiden Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengambil peran aktif dalam mengawal kapal-kapal yang terjebak agar dapat kembali beroperasi dengan aman di jalur perairan strategis tersebut.

“Kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terlarang ini, sehingga mereka dapat kembali menjalankan bisnis,” tegas Trump dalam pernyataan resminya.

Meski terdapat intervensi dari AS, harga emas hitam ini masih bertahan di atas level psikologis 100 Dolar AS per barel. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor fundamental yang masih membayangi pasar:

Ketegangan AS-Iran: Konflik antara kedua negara tersebut belum menemukan titik terang, di mana negosiasi sepanjang akhir pekan dilaporkan berjalan buntu.

Lalu Lintas Terbatas: Jalur Selat Hormuz masih belum pulih sepenuhnya, yang mengakibatkan gangguan pada pasokan minyak global secara berkelanjutan.

Sentimen Pasar: Kedua belah pihak yang berseteru dilaporkan masih bersikeras pada posisi masing-masing, sehingga ketidakpastian tetap tinggi.

Di tengah situasi sulit ini, aliansi OPEC+ turut mengambil langkah dengan mengumumkan rencana kenaikan produksi minyak pada Juni mendatang. Langkah ini tercatat sebagai peningkatan produksi ketiga sejak penutupan Selat Hormuz terjadi.

Namun, para analis memperkirakan dampak dari penambahan produksi ini belum akan signifikan. Hal tersebut dikarenakan besarnya gangguan pasokan akibat konflik yang masih berlangsung, yang hingga kini menjadi penghambat utama penurunan harga minyak lebih dalam ke level normal.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts