SURABAYA – Sebuah peninggalan bersejarah yang sarat misteri kini tengah menjadi pusat perhatian di Jawa Timur. Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS) menyimpan sebuah “pusaka” berupa mushaf Al-Quran kuno yang diperkirakan telah berusia lebih dari satu abad. Namun, yang membuat penemuan ini unik adalah tidak adanya identitas penulis atau penyusun yang tercantum pada naskah tersebut.
Kehadiran Al-Quran tanpa nama ini tidak hanya menarik minat para peneliti sejarah Islam, tetapi juga menjadi daya tarik religi bagi jemaah yang berkunjung ke salah satu masjid terbesar di Indonesia tersebut.
Kondisi Fisik: Keindahan Klasik yang Bertahan Lama
Meskipun telah berusia seratus tahun lebih, Al-Quran ini masih menunjukkan kualitas pengerjaan yang luar biasa pada masanya. Beberapa detail fisik yang menarik perhatian adalah:
Kertas Tua yang Autentik: Menggunakan jenis kertas yang umum digunakan pada awal abad ke-20, yang kini telah berubah warna menjadi kekuningan alami (patina).
Tulisan Tangan Presisi: Setiap huruf ditulis dengan khat yang sangat rapi dan konsisten, menunjukkan kedalaman spiritual dan ketelitian sang penulis.
Ornamen Minimalis: Berbeda dengan mushaf kerajaan yang penuh emas, Al-Quran ini tampil bersahaja namun memancarkan aura sakral yang kuat.
Teka-Teki “Pusaka Tanpa Nama”
Salah satu misteri terbesar adalah ketiadaan kolofon (catatan di akhir naskah) yang biasanya mencantumkan nama penulis, tempat penulisan, atau tanggal selesainya naskah. Hal ini memicu beberapa spekulasi di kalangan ahli:
Zuhud Sang Penulis: Ada asumsi bahwa sang penulis sengaja tidak menyertakan namanya demi menjaga keikhlasan amal ibadahnya (tidak ingin dikenal).
Warisan Keluarga: Diduga naskah ini merupakan koleksi pribadi keluarga terpandang di Surabaya yang kemudian diwakafkan ke Masjid Al-Akbar tanpa pencatatan administratif yang detail.
Produksi Lokal Jawa: Gaya penulisan memberikan indikasi kuat bahwa Al-Quran ini diproduksi oleh ulama lokal di wilayah Jawa Timur pada era kolonial.
Upaya Konservasi Masjid Al-Akbar
Pihak pengelola Masjid Al-Akbar Surabaya menyadari nilai sejarah tinggi yang terkandung dalam mushaf ini. Langkah-langkah pelestarian pun dilakukan, mulai dari penyimpanan di ruang dengan suhu terkontrol hingga pembatasan kontak fisik secara langsung untuk mencegah kerusakan pada serat kertas yang sudah rapuh.
“Ini adalah bagian dari sejarah literasi Islam di Surabaya. Meskipun tanpa nama, nilai spiritual dan kesejarahannya tetap tak ternilai,” ungkap salah satu staf pengelola masjid.
Menjadi Edukasi Sejarah bagi Jemaah
Pusaka ini kini menjadi sarana edukasi bagi pengunjung masjid. Selain untuk beribadah, masyarakat dapat melihat langsung bagaimana Al-Quran dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi sebelum era cetak modern masif seperti sekarang. Penemuan ini mempertegas peran Surabaya sebagai salah satu titik penting penyebaran dan perkembangan dakwah Islam di Nusantara.










