SEANTERONEWS.com – Kampung Sekumur di Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang berubah total setelah diterjang banjir bandang dahsyat yang datang pada akhir November 2025. Peristiwa itu menghapus hampir seluruh rumah dan bangunan warga, meninggalkan hamparan lumpur dan kayu gelondongan sebagai satu-satunya tanda bekas permukiman yang dahulu ramai.
Akibat banjir bandang tersebut, sekitar 280 rumah yang menjadi tempat tinggal ratusan keluarga lenyap dalam sekejap. Hanya sebuah masjid yang masih berdiri kokoh di tengah reruntuhan, sementara ribuan batang kayu dan puing berserakan di seluruh penjuru desa. Sejumlah warga yang selamat mengingat detik-detik mencekam ketika air menghantam dengan ketinggian yang sangat besar, hampir menenggelamkan atap bangunan.
Kehancuran di Sekumur turut mencerminkan besarnya dampak banjir di Aceh Tamiang, di mana warga yang kehilangan tempat tinggal kini harus mengungsi sambil berharap bantuan sampai ke lokasi mereka. Kondisi ini diperparah oleh putusnya akses jalan dan isolasi wilayah, sehingga distribusi bantuan logistik membutuhkan waktu lebih lama dan upaya lebih besar dari berbagai pihak.
Akhirnya, sejumlah bantuan mulai berdatangan ke daerah yang terdampak. Tim relawan dan pemerintah daerah berusaha menyalurkan bantuan makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya ke titik-titik pengungsian meskipun logistik masih terbatas. Keberadaan bantuan ini menjadi harapan penting bagi warga yang kini hidup dalam kondisi darurat, banyak di antaranya masih berjuang menghadapi keseharian tanpa rumah dan fasilitas memadai.
Para korban yang kehilangan rumah melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup, termasuk membangun pondok sementara dari sisa kayu bandang yang tersisa. Di tengah kesedihan dan kehilangan, bantuan yang masuk perlahan memberi mereka ruang untuk bertahan dan memulihkan kekuatan fisik dan mental.
Kondisi kesehatan juga menjadi perhatian serius karena banjir bandang turut merendam fasilitas umum seperti puskesmas dan pos pelayanan kesehatan. Pemerintah dan relawan terus berupaya memenuhi kebutuhan medis serta memastikan bantuan obat-obatan mendesak bisa tersedia di pos-pos kesehatan sementara yang berdiri di kawasan terdampak.
Kisah Kampung Sekumur menjadi salah satu potret paling menyayat dari bencana Aceh Tamiang, yang menunjukkan kehancuran total rumah warga dan tantangan besar dalam penyaluran bantuan di daerah isolasi. Meski begitu, datangnya bantuan menjadi sinyal awal bahwa dukungan masih terus mengalir demi meringankan penderitaan para korban.[]










