SEANTERONEWS.com – Major Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasihat militer senior kepada Pemimpin Tertinggi Iran, menyatakan bahwa situasi saat ini bukanlah gencatan senjata, melainkan sebuah fase dalam perang yang sedang berlangsung. Ia memperingatkan kemungkinan konflik baru dengan Israel atau Amerika Serikat sebagai realitas yang bisa terjadi kapan saja.
“Gencatan Senjata” Hanya Ilusi
Safavi menegaskan tidak ada dokumen resmi, kesepakatan, atau protokol yang mengakhiri permusuhan dengan AS atau Israel. Baginya, fase saat ini bukan tanda perdamaian, melainkan jeda yang rawan berubah menjadi konflik kembali.
Iran Memperkuat Strategi Deterrence
Iran tidak tinggal diam. Safavi menyatakan, negara terus membangun kekuatan di berbagai lini — dari diplomasi, media, hingga kekuatan militer dan siber. Semua skenario terburuk telah diperhitungkan dan ada rencana cadangan disiapkan.
Daya Tahan dan Kekuatan Simbolis
Menurut Safavi, Iran memahami bahwa dalam tatanan dunia, “yang kuat bertahan, yang lemah terinjak.” Maka, kekuatan Iran harus menjadi fondasi bagi posisi tawarnya, bukan sekadar ancaman retoris.
Refleksi dari Konflik Juni yang Mengerikan
Komentar ini muncul di tengah masih hangatnya ingatan atas konflik 12 hari di bulan Juni—dengan serangan Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran, disusul serangan balasan dari Iran. Setelah itu, mediasi AS berhasil membawa gencatan sementara pada tanggal 24 Juni.[]










