Banda Aceh – Gairah memodifikasi audio mobil seringkali terhenti di depan teknologi canggih pabrikan. Apa yang disebut sebagai Active Sound Design (ASD) atau suara knalpot palsu yang disuntikkan melalui speaker, ternyata bukan sekadar gimmick, melainkan sebuah “ranjau” yang membuat para instalatur audio mobil aftermarket pusing tujuh keliling.
Sistem yang dirancang untuk memperdengarkan raungan mesin yang lebih “gagah” di kabin ini, secara tak terduga, mengubah proses pemasangan subwoofer menjadi mimpi buruk yang mustahil dipecahkan.
Menurut Ken Ward, Manajer Pemasaran Teknis untuk Elettromedia SpA, yang diakui sebagai pakar audio mobil, masalah utama bermula dari prioritas pabrikan (OEM).
“Hal yang paling penting bagi mereka adalah menggunakan speaker untuk memutar suara non-hiburan,” ungkap Ward.
Suara “non-hiburan” ini mencakup klakson sabuk pengaman, lonceng pintu terbuka, panggilan telepon hands-free, dan, tentu saja, suara knalpot palsu yang disebut Active Sound Design (ASD). Kualitas musik ditempatkan di urutan paling bawah daftar prioritas OEM.
Ketika sebuah mobil modern memasuki bengkel audio, instalatur tidak hanya berurusan dengan ASD, tetapi juga Active Noise Cancellation (ANC). Kedua sistem ini menggunakan jaringan mikrofon yang kompleks untuk mendikte suara apa yang harus dimainkan (ASD) atau dihilangkan (ANC) di dalam kabin.
Masalah ASD paling terasa saat instalatur mencoba menambahkan subwoofer aftermarket yang mampu menghasilkan frekuensi rendah lebih baik.
“Ketika kami menambahkan subwoofer yang dapat memainkan bass lebih baik dan sedikit lebih keras tanpa distorsi, suara knalpot palsu menjadi lebih keras dan lebih mengganggu,” jelas Ward.
Mayoritas sistem knalpot palsu sengaja dibuat untuk memiliki lonjakan frekuensi (spike) tajam di sekitar 50 Hertz, yang merupakan wilayah ideal bagi subwoofer. Akibatnya, alih-alih mendapatkan dentuman musik yang jernih, pemilik mobil justru “disiksa” oleh raungan mesin palsu yang mendominasi dan mengganggu.
Jika dulu instalatur bisa mengatasi suara knalpot palsu dengan memutus kawat pulsa posisi crankcase yang mengirimkan data RPM ke amplifier, kini cara itu sudah tidak berlaku.
“Pada mobil saat ini, kawat itu sudah tidak ada. Data RPM dibawa melalui jaringan,” kata Ward.
Lebih parah lagi, sistem ANC modern telah terintegrasi sedemikian rupa sehingga mikrofon yang digunakan untuk meredam kebisingan juga digunakan untuk fungsi-fungsi penting lain, seperti panggilan hands-free.
Contoh kasus rumit terlihat pada Genesis GV80 yang menggunakan delapan mikrofon dalam sirkuit jaringaian daisy-chained. Memutus salah satu mikrofon berarti memutus seluruh jaringan. Pada mobil lain, seperti Cadillac Escalade baru, memutus mikrofon ANC juga akan menghilangkan kemampuan panggilan hands-free dan fitur keselamatan lainnya.
Bahkan mobil yang tidak dilengkapi sistem premium pun tak luput dari masalah. Chevrolet Silverado non-Bose, misalnya, diketahui memiliki suara knalpot palsu yang tidak diketahui cara mematikannya oleh siapa pun, meski sistem audionya tidak memiliki bass yang memadai.
Para ahli seperti Ken Ward berharap pabrikan mobil segera mewajibkan adanya sakelar sederhana di dasbor atau menu infotainment yang memungkinkan pengguna menonaktifkan ASD dan ANC sepenuhnya.
Selama pabrikan terus menempatkan kualitas suara di urutan paling akhir, biaya dan waktu yang dihabiskan untuk upgrade audio mobil aftermarket akan terus melonjak drastis, mengubah hobi modifikasi menjadi sebuah tantangan teknis yang memerlukan keahlian “sihir” dari instalatur.[]












