BREAKING

INTERNASIONALKOMUNITASPOLITIK

Film Mata-Mata Bollywood Picu Badai Politik India-Pakistan

SEANTERONEWS.com – Industri film Bollywood kembali menjadi sorotan dunia, kali ini bukan karena box office semata, melainkan karena memicu keributan diplomatik dan perdebatan sengit di antara dua negara bertetangga yang bersenjata nuklir: India dan Pakistan.

Film spy thriller terbaru, “Dhurandhar”, yang dibintangi aktor populer Ranveer Singh, baru saja dirilis dan langsung menjadi magnet kontroversi. Di satu sisi, film ini meraup sukses komersial besar di India, namun di sisi lain, ia menuai kritik pedas karena dituding menyebarkan narasi ultra-nasionalis yang membengkokkan sejarah dan memicu sentimen anti-Muslim.

Disutradarai oleh Aditya Dhar, Dhurandhar diklaim sebagai dramatisasi dari babak rahasia intelijen India, Research and Analysis Wing (R&AW). Film ini mengikuti perjalanan seorang agen yang menyusup ke sarang “gangster dan teroris” di Karachi, Pakistan, untuk menetralkan ancaman terhadap keamanan nasional India.

Film ini menampilkan ensemble cast kelas berat, termasuk Sanjay Dutt yang memerankan tokoh antagonis dari pihak Pakistan, dan R Madhavan sebagai perwira intelijen kunci di New Delhi.

Kontroversi terbesar meledak di Pakistan, terutama karena penggambaran kota pelabuhan utama mereka, Karachi, khususnya kawasan padat penduduk Lyari.

Kritikus, termasuk akademisi dari Lahore University of Management Sciences, menuding film ini gagal total dalam merepresentasikan Karachi secara akurat. Mereka menyebutnya “seperti tempat yang dibom” dan “tidak mencerminkan kota sama sekali” – sebuah penggambaran yang sepenuhnya didasarkan pada fantasi ultra-nasionalis.

Amarah memuncak ketika seorang anggota Pakistan People’s Party (PPP) mengambil jalur hukum di Karachi, memprotes penggunaan gambar mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto (yang terbunuh pada 2007) tanpa izin, serta protes atas penggambaran pemimpin partai sebagai pendukung “teroris”.

Fenomena Dhurandhar ini, menurut analis, bukanlah insiden tunggal. Film ini disebut sebagai bagian dari tren yang semakin kuat di Bollywood, di mana rumah produksi besar mulai menyukai alur cerita yang sejalan dengan kebijakan pemerintah nasionalis Hindu pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Tujuan utama dari film-film ini, seperti yang terjadi pada film-film kontroversial sebelumnya seperti The Kashmir Files dan Article 370, dituding sengaja mereduksi minoritas Muslim baik di perbatasan maupun di dalam negeri sebagai “teroris”, yang secara kultural semakin meminggirkan Muslim di India.

Film Dhurandhar kini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga medan pertempuran ideologis, memaksa audiens dan kritikus untuk mempertanyakan batas antara hiburan sinematik dan propaganda politik.

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts