BANDAR LAMPUNG – Kesetiaan terhadap garis perjuangan partai menjadi batu uji paling mendasar bagi kedewasaan seorang politisi. Pesan moral tersebut digaungkan secara tegas oleh Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Viva Yoga Mauladi, di hadapan ratusan fungsionaris, kader, dan simpatisan partai se-Provinsi Lampung, Sabtu (12/9/2026).
Arahan tersebut disampaikan Viva Yoga dalam pembukaan agenda kaderisasi bertajuk Cadre Acceleration Program (CAP): Pembelajaran Ideologi dan Doktrin Kepartaian yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Provinsi Lampung di Kota Bandar Lampung. Forum ini turut dihadiri barisan relawan serta organisasi sayap partai, mulai dari Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), Perempuan Amanat Nasional (PUAN), hingga Majelis Taklim Al Amanah.
Dalam orasinya, Viva Yoga menegaskan bahwa bergabung dengan partai politik bukanlah arena transaksional jangka pendek, melainkan komitmen menghibahkan waktu, tenaga, serta intelektualitas demi melayani kepentingan rakyat dan sarana beribadah.
“Ketika kita telah menetapkan PAN sebagai rumah perjuangan, maka melekat tanggung jawab moral untuk bersama-sama merawat hidup dan matinya institusi ini,” papar mantan Presidium Majelis Nasional KAHMI tersebut.
Sentil Fenomena Pindah Partai Pascaterpilih
Viva Yoga secara khusus menyoroti fenomena pragmatisme politik di mana segelintir figur memilih berpindah perahu setelah sukses meraih jabatan publik. Ia melayangkan kritik terbuka terhadap kader yang telah dipercaya memimpin daerah maupun memegang mandat kepengurusan wilayah, namun justru menanggalkan etika loyalitas demi kepentingan sesaat.
Menurutnya, konsistensi dan integritas ideologis adalah modal utama yang kelak mendatangkan keberkahan politik. Loyalitas kader di akar rumput terbukti menjadi faktor determinan yang mampu melipatgandakan perolehan kursi legislatif dan mendongkrak elektabilitas partai pada kontestasi elektoral.
Ia juga membakar semangat jajaran pengurus di Lampung dengan menyinggung figur Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan—yang kini turut mengemban mandat di kabinet pemerintahan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan—sebagai putra daerah kebanggaan masyarakat Lampung. Menurutnya, kader di daerah asal sang ketua umum memiliki tanggung jawab moral untuk menampilkan kinerja organisasi yang paling solid dan bebas friksi internal.
Disiplin Kader Kunci Menjaga Kualitas Demokrasi
Melalui kurikulum CAP, seluruh elemen partai, termasuk kader yang kini menduduki kursi kepala maupun wakil kepala daerah, didorong untuk menguasai doktrin organisasi, memperkuat konsolidasi horizontal, serta mengikis bibit-bibit konflik personal di tubuh kepengurusan.
Menutup arahannya, politisi senior asal Lamongan ini memaparkan fungsi vital partai politik dalam ekosistem ketatanegaraan modern. Ia menegaskan tidak ada demokrasi yang sehat tanpa keberadaan partai yang fungsional.
Partai politik, kata Viva Yoga, tidak boleh tereduksi hanya sebagai instrumen legitimasi kekuasaan atau alat stempel kebijakan elite. Partai harus dikelola secara disiplin, akuntabel, dan berakar pada aspirasi publik agar mampu menjadi pilar penyangga demokrasi yang bermartabat dan menyejahterakan masyarakat.[]










