BREAKING

KESEHATAN

Cannabis Use Disorder (CUD): Fakta Medis dan Risiko Kecanduan Ganja yang Harus Diketahui Publik

SEANTERONEWS.com – Di tengah meningkatnya legalisasi dan penerimaan sosial terhadap ganja (cannabis) di berbagai belahan dunia, sebuah peringatan serius datang dari komunitas medis. Kecanduan ganja, yang secara klinis dikenal sebagai Cannabis Use Disorder (CUD), adalah kondisi nyata dan jauh lebih umum daripada yang disadari banyak pengguna.

Para ahli kesehatan menegaskan bahwa CUD adalah masalah kesehatan masyarakat yang berkembang, dan diperlukan kesadaran yang lebih luas tentang risiko kecanduan yang melekat pada penggunaan ganja, terlepas dari status legalnya.

Temuan paling mengejutkan yang disoroti oleh laporan AP News adalah data prevalensi CUD. Diperkirakan bahwa:

Sekitar 1 dari 10 (10%) orang yang menggunakan ganja berisiko tinggi mengembangkan Cannabis Use Disorder.

Angka ini meningkat drastis bagi mereka yang mulai menggunakan ganja sejak usia muda atau yang menggunakannya setiap hari. CUD bukanlah sekadar kebiasaan buruk, melainkan kondisi kecanduan yang diakui secara resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), buku panduan utama untuk diagnosis kejiwaan.

Kecanduan ganja memanifestasikan diri dengan gejala yang mirip dengan kecanduan zat lain, menepis mitos bahwa ganja tidak adiktif:

  • Toleransi: Membutuhkan dosis yang semakin tinggi untuk mencapai efek yang sama.

  • Kecemasan dan Craving: Merasa dorongan kuat untuk menggunakan ganja.

  • Ketidakmampuan Berhenti: Berulang kali gagal dalam upaya mengurangi atau menghentikan penggunaan.

  • Gejala Putus Zat (Withdrawal): Mengalami iritabilitas, kecemasan, perubahan suasana hati, dan kesulitan tidur ketika tidak menggunakan ganja.

Para ahli mencatat bahwa penggunaan produk ganja dengan potensi tinggi (high potency) saat ini semakin memperparah risiko perkembangan CUD.

Meningkatnya kasus CUD menyoroti kesenjangan besar dalam infrastruktur perawatan kesehatan. Di banyak wilayah, fasilitas perawatan yang khusus menangani kecanduan ganja masih langka, padahal terapi perilaku (behavioral therapy) dan konseling sering kali diperlukan untuk membantu individu mengatasi gangguan ini.

Laporan ini berfungsi sebagai peringatan krusial: seiring terbukanya akses terhadap ganja, masyarakat harus dipersenjatai dengan edukasi yang akurat tentang risiko nyata kecanduan, bukan hanya berfokus pada manfaat yang dipersepsikan.

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts