BREAKING

LINGKUNGAN

Merapi Luncurkan Lava 2 Km, BPPTKG Ingatkan Bahaya Ini

Gunung Merapi luncurkan lava pijar sejauh 2 km ke tiga sungai. BPPTKG imbau warga waspadai zona bahaya radius 7 km.

YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan dinamika vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih berada pada intensitas tinggi.

Berdasarkan hasil evaluasi pemantauan sepanjang Jumat (2/10/2026), status aktivitas gunung berapi tersebut kini bertahan di Level III atau Siaga.

Masyarakat yang bermukim di kawasan lereng diminta untuk memperketat kewaspadaan menyusul guguran material kubah yang kian aktif meluncur ke bibir sungai.

Luncuran Guguran Lava Mencapai 2.000 Meter

Petugas penyusun laporan aktivitas Gunung Merapi dari BPPTKG, Yulianto, memaparkan bahwa kamera pemantau mencatat sedikitnya sembilan kali luncuran lava pijar selama kurun waktu pengamatan harian.

Guguran batuan panas tersebut terpantau mengalir deras menuruni hulu sungai di sisi selatan dan barat daya, yakni melintasi Kali Sat, Kali Putih, serta Kali Boyong.

Merujuk catatan yang dikutip dari RMOLJateng, jarak luncur terjauh material guguran lava tersebut tercatat mencapai radius 2.000 meter dari pusat kawah aktif.

Tekanan Magma Dangkal Mengikis Stabilitas Kubah

Aktivitas pelepasan material pijar ini terjadi bersamaan dengan peningkatan energi seismik di tubuh gunung api. BPPTKG mendeteksi kemunculan delapan kali gempa vulkanik dangkal.

Yulianto menguraikan bahwa rentetan gempa dangkal tersebut merefleksikan adanya tekanan dan migrasi fluida magma yang posisinya sudah teramat dekat dengan permukaan kawah.

Tekanan fluida ini mendesak struktur kubah lava hingga memicu retakan dan menjadikannya tidak stabil. Kondisi labil inilah yang menyebabkan runtuhnya dinding lava secara gravitasi dan meluncur ke dasar alur sungai.

Suplai Magma Masih Berlangsung Masif

Selain getaran vulkanik dangkal, seismograf BPPTKG turut merekam lonjakan gempa guguran sebanyak 85 kali kejadian. Di saat bersamaan, terdeteksi pula 48 kali gempa fase banyak (hybrid).

Kombinasi gempa internal yang tinggi ini menjadi bukti empiris bahwa pasokan magma segar dari perut bumi menuju puncak kawah masih berlangsung aktif hingga saat ini.

Karakteristik deformasi dan suplai energi ini menegaskan bahwa erupsi efusif Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Rekomendasi Zona Bahaya dan Imbauan BPPTKG

Merespons tingginya aktivitas vulkanik ini, BPPTKG mengeluarkan larangan keras bagi warga maupun wisatawan untuk tidak beraktivitas di dalam zona potensi bahaya.

Ancaman utama saat ini diproyeksikan berupa lontaran guguran lava dan aliran awan panas guguran di sektor selatan hingga barat daya dengan jangkauan maksimal 7 kilometer.

Masyarakat di seputaran lereng Merapi juga diimbau meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan saat presipitasi tinggi, serta potensi sebaran abu vulkanik yang terbawa arah angin.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts