EDUKASI

Merajut Kemandirian Ekonomi Desa: Mahasiswa USK Siap Diberangkatkan Untuk Program Pengabdian ke Blang Tingkuem

BANDA ACEH—Langkah nyata pengabdian kembali digelorakan oleh civitas akademika Universitas Syiah Kuala (USK). Bertempat di Ruang MIPA A 01.03, Fakultas MIPA USK, Rabu (28/10/2026) sore, suasana haru sekaligus antusias menyelimuti acara pelepasan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Aksara Mahasiswa DPPM BIMA Tahun 2026 yang didanai langsung oleh Kemendiktisaintek.

Mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, sebanyak 16 mahasiswa lintas program studi resmi dilepas untuk mengemban misi mulia di Desa Blang Tingkuem, Kecamatan Seulimuem, Kabupaten Aceh Besar.

kolaborasi ini tidak hanya diisi oleh mahasiswa sains seperti biologi, kimia, farmasi, atau pertanian. Mahasiswa dari rumpun sosial dan kependidikan, seperti Pendidikan Bahasa Indonesia hingga PG-PAUD dan Ilmu Komunikasi, turut bahu-membahu menyatukan ide dalam satu visi besar.

Agar pergerakan di lapangan semakin terstruktur, kelompok ini dibagi ke dalam tiga divisi khusus, yakni tim produksi yang fokus mengurus pengolahan bahan, tim edukasi untuk penyuluhan warga, serta tim kompos yang menangani pengolahan limbah organik sisa produksi.

Di bawah komando penanggung jawab program, Prof. Dr. Zumaidar, S.Si., M.Si.—seorang guru besar Departemen Biologi FMIPA USK—tim ini membawa misi bertajuk: “Penerapan Teknologi Pengolahan Teh Herbal Berbasis Tumbuhan Obat Lokal untuk Penguatan Kesehatan dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat Blang Tingkuem.”

Acara pelepasan sore itu dibuka secara resmi oleh Dr. Dra. Sulastri, M.Si., yang juga merupakan anggota tim pengusul program.

Saat ditemui usai acara, Sulastri menjelaskan bahwa fokus kegiatan ini dirancang secara komprehensif, mulai dari hulu hingga hilir.

“Kami berfokus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menanam menggunakan pupuk organik, serta memastikan proses pengolahan produk memperhatikan aspek keamanan, kesehatan, dan dampak jangka panjang bagi konsumen,” ujar Sulastri.

Tidak hanya berhenti pada proses pembuatan teh herbal—yang juga melibatkan pendampingan uji kadar air maksimal 10 persen demi mencegah pertumbuhan jamur—tim ini turut memfasilitasi legalitas produk. Mulai dari pengurusan perizinan PIRT, manajemen usaha, hingga pendampingan pemasaran agar sumber daya alam Aceh dapat menembus pasar yang lebih luas.

Dalam arahannya di depan para peserta, Sulastri juga menitipkan pesan penting agar para mahasiswa senantiasa menjunjung tinggi etika adat istiadat selama berada di lokasi pengabdian yang dijadwalkan mulai Sabtu (31/10/2026) mendatang.

“Ingat, program ini setara dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kalian turun langsung ke tengah masyarakat membawa nama besar USK. ” tegas Sulastri.

Lebih dari sekadar menjalankan program utama, Sulastri mendorong para mahasiswa agar membaur secara aktif dalam keseharian warga gampong. Mengisi waktu luang dengan menjadi muazin atau imam di meunasah, serta mengikuti kegiatan wirid pengajian rutin, menjadi bagian dari catatan harian (logbook) untuk merajut kedekatan emosional dengan warga.

Rencananya, gelombang pertama pengabdian ini akan berlangsung selama sembilan hari di desa sasaran, dan akan dilanjutkan kembali selama sebelas hari pada pertengahan hingga akhir November mendatang demi memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat Blang Tingkuem.(*)

 

image_print
author avatar
Syarifudin Brutu
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts