BREAKING

ACEHKULINER

Merawat Marwah Kebersamaan, Masyarakat Aceh Besar Konsisten Lestarikan Tradisi Bubur Asyura dan Teuet Apam

Menilik makna historis, sosial, dan spiritual tradisi Bubur Asyura serta Teuet Apam di Aceh Besar yang terus lestari sebagai media perekat ukhuwah.

BANDA ACEH – Di tengah cepatnya arus perubahan sosial dan perkembangan teknologi informasi di era digital, masyarakat di Kabupaten Aceh Besar terus berupaya merawat warisan adat yang telah mengakar secara turun-temurun. Dua tradisi komunal yang hingga kini tetap hidup subur di tengah kehidupan gampong adalah memasak Bubur Asyura dan prosesi Teuet Apam.

Bagi warga setempat, kedua tradisi ini bukan sekadar urusan kuliner musiman atau seremoni tahunan, melainkan wujud identitas sosial-keagamaan yang kuat sebagai perekat silaturahmi di tingkat gampong.

Setiap memasuki tanggal 10 Muharram yang diperingati sebagai Hari Asyura, suasana meunasah dan masjid di seantero gampong Aceh Besar berubah menjadi ruang interaksi sosial yang hangat.

Hari Asyura memiliki posisi penting dalam sejarah teologi Islam. Berdasarkan hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan puasa sunnah sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran pasukan Fir’aun.

Dalam konteks kultural Aceh, pemaknaan Asyura berasimilasi secara khas. Selain melaksanakan puasa sunnah, warga menyelenggarakan kenduri (khanduri) Bubur Asyura yang dalam tradisi lisan kerap dikaitkan dengan ekspresi syukur atas selamatnya bahtera Nabi Nuh AS dari banjir besar, di mana sisa bahan makanan dikumpulkan untuk dimasak bersama.

Jejak Sejarah Kebudayaan Islam

Masuknya tradisi ini ke bumi Aceh tidak terlepas dari posisi historis Aceh sebagai salah satu pintu masuk awal penyebaran Islam di Nusantara, sejak era Kerajaan Perlak hingga Samudera Pasai. Para saudagar dan ulama yang singgah dalam jalur perdagangan internasional membawa tradisi keagamaan ini, yang kemudian diadopsi dan diselaraskan dengan kebudayaan lokal Aceh.

Pada masa keemasan Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, peringatan Muharram terstruktur erat dalam kalender sosial-keagamaan kerajaan. Catatan etnografis, termasuk tulisan Snouck Hurgronje, mengonfirmasi bahwa kebiasaan membagikan makanan pada momentum Muharram telah menjadi tradisi kultural yang mapan di kalangan masyarakat Aceh sejak masa lampau.

Di Aceh Besar, tradisi ini dikelola melalui sistem patungan (meuripee) untuk membeli bahan pangan, lalu dimasak secara gotong royong dalam belanga (kuah beulangong) raksasa di halaman meunasah gampong.

Filosofi Keberagaman Bubur Asyura

Kekhasan Bubur Asyura di Aceh Besar terletak pada kompleksitas bahan penyusunnya yang dapat mencapai 41 jenis bahan berbeda, mulai dari beras, jagung, ubi, pisang, sayuran, aneka kacang-kacangan, hingga rempah-rempah lokal.

Keberagaman bahan ini mengandung filosofi sosial yang mendalam: menyatukan perbedaan latar belakang masyarakat ke dalam satu ikatan kebersamaan yang kokoh [10]. Setelah matang, hidangan ini didistribusikan secara merata kepada seluruh warga gampong, termasuk anak yatim, fakir miskin, dan para musafir tanpa sekat status sosial.

Ketekunan Spiritual Lewat Teuet Apam

Selain Bubur Asyura, masyarakat Aceh Besar juga merawat tradisi Teuet Apam. Istilah teuet merujuk pada aktivitas memanggang, sedangkan apam adalah kue serabi tradisional berbahan tepung beras dan santan kelapa yang dimasak menggunakan cetakan wajan tanah liat tradisional di atas tungku kayu.

Tradisi Teuet Apam sering kali dikaitkan dengan nilai spiritual berupa sedekah serta kiriman doa bagi anggota keluarga yang telah wafat. Proses fermentasi adonan dan ketelatenan dalam memanggang mencerminkan nilai ketekunan. Selain itu, tradisi ini menegaskan peran sentral perempuan Aceh dalam memelihara keutuhan jaringan sosial di tingkat komunitas.

Tantangan Pelestarian di Era Modern

Menyadari pentingnya nilai-nilai gotong royong ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar memberikan perhatian serius terhadap pelestariannya. Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, secara resmi mengimbau segenap lapisan masyarakat untuk senantiasa menghidupkan tradisi Bubur Asyura dan Teuet Apam pada setiap peringatan 10 Muharram sebagai media ibadah, sedekah, dan penguatan tali silaturahmi.

Kendati demikian, tantangan pelestarian di era modern tidaklah ringan. Arus urbanisasi, pergeseran gaya hidup instan, serta minimnya keterlibatan generasi muda menjadi ancaman nyata yang dapat menggeser praktik komunal ini ke arah pola hidup individualistis.

Guna mengantisipasi hal tersebut, banyak gampong di Aceh Besar kini mulai secara aktif melibatkan lembaga sekolah, dayah, dan organisasi pemuda gampong dalam kepanitiaan festival memasak tahunan.

Upaya kolaboratif ini membuktikan bahwa modernisasi tidak harus melenyapkan identitas budaya, melainkan dapat diadaptasikan untuk melahirkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dasar yang sarat akan makna gotong royong.[]

Sumber: potretonline.com

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts