Suatu malam, saya sedang rebahan sambil buka TikTok, lalu lewat satu video dengan kalimat yang entah kenapa terus terngiang: “sering kali kita kehilangan karena kita mulai tidak peduli.” Kalimat itu sebenarnya sederhana. Tapi malam itu, ia mengetuk sesuatu yang lebih dalam di kepala saya sebagai orang Aceh Singkil.
Saya lalu iseng bertanya pada diri sendiri: ada berapa desa sebenarnya di kampung saya? Setelah saya cari tahu, jawabannya 116 desa, tersebar di 11 kecamatan. Angka itu sendiri tidak istimewa. Yang membuat saya terhenti adalah pertanyaan berikutnya: dari mana nama-nama desa itu berasal? Kenapa desa saya dan desa tetangga punya nama yang begitu berbeda bunyinya, seolah berasal dari bahasa yang berlainan?
Saya coba baca satu per satu. Ada yang jelas berbahasa Boang, bahasa asli suku Singkil. Ada yang berbau Melayu Pesisir. Ada yang bahasa Indonesia biasa, bahkan ada yang terdengar seperti bahasa Jawa. Tapi ada juga nama-nama yang saya sendiri, sebagai orang Singkil, tidak tahu artinya. Nama itu sudah jadi alamat, jadi kop surat, jadi plang di simpang jalan — tapi maknanya menguap entah ke mana.
Dari situ, bersama kawan saya, Siti Khumairoh, kami iseng bertanya ke beberapa anak muda: “Tahu nggak arti nama desamu?” Kebanyakan hanya menggeleng. Bukan karena mereka bodoh atau tidak cinta kampung. Mereka memang tidak pernah diberi tahu. Dan itu yang menurut saya lebih menyedihkan daripada sekadar lupa.
Contoh paling gampang: ada desa bernama Buluh Dokhi. Dalam bahasa Boang, buluh berarti bambu, dan dokhi adalah jenis bambu berduri. Dulu, kawasan itu memang rimbun oleh bambu berduri ini. Sekarang? Tidak ada lagi satu rumpun pun. Bambu itu sudah punah dari sana, kalah oleh kebun dan lahan yang berubah fungsi. Yang tersisa cuma namanya, menempel di plang desa, dibaca setiap hari tapi tidak dipahami.
Bukan cuma Buluh Dokhi. Ada juga Buluh Ara dan Buluh Sema. Semua memakai kata “buluh” di depannya. Tidak mungkin nama itu muncul tanpa alasan — dulu, tempat-tempat ini pasti dipenuhi bambu, sampai orang-orang dulu merasa perlu menandainya lewat nama. Tapi generasi sekarang, termasuk saya, tumbuh tanpa pernah melihat bambu-bambu itu. Bagi kami, nama itu cuma bunyi, bukan gambaran.
Ini yang dalam ilmu bahasa disebut ekolinguistik — cara bahasa dan alam saling merekam satu sama lain. Ketika sebuah pohon, sungai, atau rawa hilang dari suatu tempat, sering kali namanya masih tertinggal di peta, di plang desa, di KTP kita. Nama itu jadi semacam jejak kaki dari sesuatu yang sudah tidak ada. Masalahnya, kalau tidak ada yang menjelaskan, jejak itu lama-lama dianggap tidak berarti apa-apa.
Saya dan Siti pernah menelusuri lebih dalam soal ini lewat riset kecil-kecilan di Desa Pea Bumbung. Dalam bahasa Boang, pea berarti rawa atau danau rawa yang tenang, sedangkan bumbung adalah nama pohon (dikenal juga sebagai lo) yang biasa tumbuh di pinggir sungai atau rawa. Jadi nama Pea Bumbung sebenarnya adalah semacam foto lama: dulu di sana ada rawa tenang dengan pohon bumbung tumbuh di tepiannya. Nenek moyang kita menamai tempat bukan asal-asalan, tapi berdasarkan apa yang mereka lihat dan mereka jaga.
Yang membuat saya resah, pohon dan rawa semacam ini biasanya punya fungsi penting — menahan erosi, menyimpan air. Begitu pohonnya hilang dan nama desanya tidak lagi dipahami, kita bukan cuma kehilangan kosakata. Kita kehilangan pengetahuan leluhur soal cara menjaga tanah sendiri.
Saya tidak sedang minta semua orang jadi peneliti bahasa. Saya cuma ingin mengajak kita berhenti sebentar dan bertanya ke orang tua atau tetua kampung: “Kenapa desa kita dinamai begini?” Pertanyaan sesederhana itu bisa menyelamatkan sepotong ingatan yang kalau tidak segera ditanyakan, akan hilang bersama generasi yang masih ingat.
Sekolah-sekolah di Aceh Singkil juga bisa mulai menyelipkan cerita asal-usul nama desa dalam pelajaran muatan lokal, sesederhana dongeng sebelum pelajaran dimulai. Bukan demi nilai akademis, tapi supaya anak-anak tahu bahwa tempat mereka tinggal punya cerita, bukan cuma alamat di surat undangan.
Kalimat TikTok itu benar adanya: kita memang sering kehilangan karena berhenti peduli. Bedanya, kali ini yang terancam hilang bukan barang atau orang, melainkan ingatan tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Dan itu, jauh lebih sulit dicari gantinya.(*)











