SEANTERONEWS.com – Kementerian Luar Negeri Iran memberikan peringatan keras bahwa rancangan perjanjian damai yang tengah dijajaki bersama Amerika Serikat terancam batal sepenuhnya jika sejumlah persyaratan krusial tidak segera dipenuhi oleh pihak Washington. Otoritas Teheran mendesak Pemerintah AS untuk segera mengambil langkah nyata di lapangan guna menyelamatkan komitmen kesepakatan damai yang telah dibahas sebelumnya.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa seluruh hasil kesepakatan damai tersebut akan menemui jalan buntu apabila tidak ada tindakan cepat dan konkret dari pihak Amerika Serikat.
Peringatan keras dari Teheran ini mencuat menyusul eskalasi militer terbaru dari Israel yang kembali melancarkan gempuran udara secara masif ke wilayah selatan Lebanon. Serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan militer Israel pada Jumat (19/6/2026) lalu dilaporkan telah mengakibatkan puluhan warga sipil Lebanon meninggal dunia.
Padahal, di dalam rancangan klausul perdamaian yang tengah dirumuskan antara Iran dan Amerika Serikat, telah diatur secara jelas mengenai komitmen penghentian segala bentuk konflik bersenjata di kawasan.
Kesepakatan damai tersebut juga mencakup ketentuan penghentian kontak tembak (ceasefire) bagi pihak-pihak yang bertikai, termasuk konfrontasi bersenjata antara militer Israel dan faksi milisi Hizbullah di wilayah selatan Lebanon.
Sebagai bentuk respons taktis langsung atas eskalasi serangan udara tersebut, pemerintah Iran memutuskan untuk mengambil kebijakan pertahanan yang sangat ketat dengan menutup total jalur pelayaran Selat Hormuz.
Penutupan jalur maritim yang sangat strategis bagi lalu lintas energi global di kawasan Teluk tersebut kini berlaku ketat untuk segala jenis aktivitas pelayaran internasional. Kebijakan penutupan sepihak ini diprediksi akan memicu guncangan baru pada stabilitas pasokan logistik dan harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu ke depan.[]











