SEANTERONEWS.com – Komando Pusat Militer Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) secara tegas membantah klaim sepihak dari pemerintah Iran yang menyatakan telah menutup jalur maritim strategis di Selat Hormuz. Otoritas keamanan Pentagon mengonfirmasi bahwa jalur perairan internasional yang sangat vital bagi distribusi energi global tersebut saat ini masih tetap terbuka dan aman untuk dilalui.
Juru Bicara Komando Pusat Amerika Serikat, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, menegaskan bahwa pihak Iran sama sekali tidak memiliki wewenang atau kendali penuh atas wilayah perairan internasional Selat Hormuz.
Pihak militer Washington memastikan arus lalu lintas pelayaran komersial dunia di kawasan tersebut terus berjalan normal di bawah pengawasan serta pengawalan ketat dari armada tempur Angkatan Laut Amerika Serikat.
“Lalu lintas pelayaran dagang internasional di Selat Hormuz masih berjalan normal. Klaim penutupan sepihak tersebut tidak sejalan dengan situasi riil di lapangan,” terang Hawkins dalam keterangannya, Minggu (21/6/2026).
Sebelumnya, Komando Militer Pusat Khatam al-Anbiya milik Republik Islam Iran mengumumkan penutupan paksa rute pelayaran internasional tersebut. Langkah ekstrem ini diambil Teheran sebagai bentuk reaksi langsung atas eskalasi serangan militer Israel ke wilayah kedaulatan Lebanon.
Pihak Teheran menganggap rentetan agresi udara yang dilancarkan oleh pasukan militer Israel di kawasan Lebanon Selatan pada Jumat (19/6/2026) lalu telah mencederai proses negosiasi draf kesepakatan damai yang tengah dijajaki bersama Amerika Serikat.
Aksi saling serang yang terus menunjukkan eskalasi di wilayah perbatasan tersebut dilaporkan telah memicu jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dalam jumlah yang cukup masif.
Kementerian Kesehatan Lebanon merilis data berkala yang menunjukkan bahwa rangkaian serangan udara militer Israel tersebut telah mengakibatkan ribuan warga sipil, termasuk puluhan petugas medis yang sedang bertugas di lapangan, meninggal dunia.
Meskipun situasi geopolitik dan keamanan di kawasan Timur Tengah terus menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan, Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk tetap menyiagakan kekuatan militer taktisnya demi menjamin stabilitas, keamanan, serta kebebasan jalur pelayaran perdagangan internasional di kawasan Teluk.[]











