SEANTERONEWS.com – Perayaan Hari Raya Iduladha identik dengan ibadah penyembelihan hewan kurban sebagai wujud ketakwaan umat Islam. Namun, di balik antusiasme masyarakat, aspek keamanan pangan dalam proses distribusi daging kurban sering kali luput dari perhatian. Minimnya sanitasi dan penanganan yang kurang tepat berisiko memicu kontaminasi bakteri pada daging yang akan dikonsumsi.
Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH., menyoroti tingginya risiko pencemaran daging saat proses penyembelihan tradisional. Menurutnya, edukasi bagi panitia kurban sangat krusial untuk mencegah penurunan kualitas daging sejak awal pemotongan.
Salah satu poin penting yang ditekankan Prof. Mustofa adalah teknik penanganan daging sesaat setelah disembelih. Ia mengingatkan agar daging bersih dan jeroan dipisahkan secara tegas guna menghindari pencemaran silang. Selain itu, kebiasaan meletakkan daging di atas tanah atau alas yang tidak steril harus segera ditinggalkan.
“Banyak orang yang terlibat dalam penyembelihan di luar rumah potong hewan belum memahami teknik pencacahan dan pengulitan yang higienis. Ini menjadi celah terjadinya kontaminasi,” jelas Prof. Mustofa sebagaimana dikutip dari laman resmi UNAIR.
Lebih lanjut, ia memberikan peringatan keras terkait penggunaan kantong plastik hitam untuk membungkus daging kurban. Berdasarkan data Badan Pengelola Obat-obatan dan Makanan (BPOM), plastik kresek hitam merupakan hasil daur ulang yang mengandung komponen kimia berbahaya seperti polivinil klorida (PVC).
Zat kimia pada plastik daur ulang ini dapat bermigrasi ke daging dan dalam jangka panjang berpotensi memicu penyakit serius seperti kanker. “Gunakan wadah yang food grade dengan tingkat kontaminan rendah. Jangan sekali-kali menggunakan plastik hitam atau hasil daur ulang,” tambahnya.
Selain proses distribusi, Prof. Mustofa juga membagikan tips bagi masyarakat penerima daging kurban. Agar kualitas daging tetap terjaga dan tahan lama di dalam lemari pendingin, daging sebaiknya dipotong-potong menjadi bagian kecil sebelum dimasukkan ke dalam freezer. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses pembekuan dan memudahkan saat akan dimasak.
Dalam standar keamanan pangan di Indonesia, masyarakat diimbau untuk memegang teguh prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Prof. Mustofa menekankan bahwa kehalalan adalah prioritas utama yang harus berjalan beriringan dengan keamanan pangan.
“Sebelum bicara keamanan pangan, kita harus pastikan aspek kehalalannya terlebih dahulu karena ini berkaitan dengan ibadah. Namun, setelah itu, prinsip aman, sehat, dan utuh wajib dipenuhi agar daging berkualitas,” tuturnya.
Ia juga mendorong pentingnya pendampingan dari dokter hewan dalam proses pemeriksaan antemortem (sebelum disembelih) dan postmortem (setelah disembelih). Dengan pengawasan profesional dan edukasi masyarakat yang baik, diharapkan prosesi Iduladha tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menghasilkan produk pangan yang berkualitas tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat.[]










