Tantangan besar membayangi kesehatan anak-anak di Aceh. Berdasarkan data periode 2021 hingga 2025, tercatat sekitar 281 ribu anak di provinsi ini masuk dalam kategori zero dose, artinya mereka belum pernah mendapatkan imunisasi dasar sama sekali. Angka ini setara dengan dua dari tiga bayi di Aceh yang belum terlindungi dari penyakit berbahaya.
Kondisi ini menjadi fokus utama dalam pertemuan bertajuk Penguatan Peran Media dalam Peningkatan Cakupan Imunisasi di Aceh yang digelar di Banda Aceh, Jumat (17/4/2026).
Mengapa Masih Banyak Anak Belum Diimunisasi?
Kabid P2P Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM, menjelaskan bahwa rendahnya cakupan imunisasi bukan tanpa alasan. Faktor utama yang masih membentengi masyarakat adalah kekhawatiran berlebih terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
“Kekhawatiran terhadap efek samping setelah imunisasi seperti demam ringan kerap membuat orang tua enggan membawa anaknya untuk diimunisasi,” ungkap dr. Iman.
Padahal, tegas dr. Iman, demam adalah hal wajar sebagai respon tubuh terhadap imunisasi dan merupakan tanda sistem imun sedang membentuk kekebalan. Selain faktor medis, hambatan sosial seperti kurangnya dukungan keluarga, izin suami, hingga rendahnya kesadaran menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama.
Risiko Wabah di Depan Mata
Bahaya nyata dari rendahnya cakupan imunisasi adalah ancaman wabah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Dokter spesialis anak, dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed, mengingatkan bahwa satu penderita penyakit menular seperti campak dapat menginfeksi 12 hingga 18 orang lainnya jika kekebalan kelompok (herd immunity) tidak terbentuk.
“Lebih dari 20 jenis penyakit berbahaya dapat dicegah melalui imunisasi. Ini adalah metode pencegahan paling efektif dan efisien dari segi biaya,” jelas dr. Aslinar.
Ia menekankan bahwa imunisasi adalah bentuk ikhtiar orang tua untuk melindungi anak dari berbagai penyakit menular yang berisiko menyebabkan kecacatan, hingga kematian.
Strategi Menuju Imunisasi Merata
Dinas Kesehatan Aceh kini telah menyusun berbagai strategi untuk menekan angka zero dose, di antaranya:
Program Imunisasi Kejar (Catch-up): Menjangkau anak usia 3 hingga 5 tahun melalui kunjungan rumah dan skrining aktif di Posyandu.
Praktik Baik (Best Practice): Mencontoh keberhasilan Kota Lhokseumawe yang mewajibkan sertifikat imunisasi sebagai syarat masuk sekolah, yang terbukti secara signifikan meningkatkan cakupan imunisasi.
Penguatan SDM: Pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan di lapangan.
Selain langkah pemerintah, peran media juga sangat krusial. Dr. Aslinar berharap media mampu menyampaikan informasi yang akurat dan menenangkan guna mengurangi keraguan di masyarakat. Dengan kolaborasi lintas sektor dan kesadaran orang tua, diharapkan imunisasi di Aceh dapat meningkat, sehingga anak-anak Aceh tumbuh menjadi generasi yang sehat dan terlindungi.[]










