Insiden ironis menimpa perusahaan penyedia layanan perlindungan identitas asal Amerika Serikat, Aura. Perusahaan yang memiliki misi melindungi masyarakat dari pencurian identitas ini justru menjadi korban peretasan yang mengakibatkan bocornya 900.000 rekor data pengguna.
Kabar ini pertama kali mencuat setelah layanan notifikasi kebocoran data Have I Been Pwned memberikan peringatan pada Selasa malam (17/3/2026), menyusul klaim tanggung jawab dari kelompok peretas ternama, ShinyHunters.
Karyawan Terjebak “Phone Phishing”
Dalam pernyataan resminya, Aura mengonfirmasi bahwa peretasan ini bermula dari serangan phishing telepon yang ditargetkan kepada salah satu karyawannya. Penyerang diduga menyamar sebagai pihak tepercaya untuk mengelabui karyawan tersebut agar memberikan akses akun.
“Kami mengidentifikasi bahwa pihak ketiga yang tidak berwenang memperoleh akses ke akun karyawan tersebut selama kurang lebih satu jam,” tulis pihak Aura. Meski akses segera diputus, peretas berhasil mengunduh data dari alat pemasaran yang digunakan oleh perusahaan yang diakuisisi Aura pada 2021 lalu.
Rincian Data yang Terdampak
Dari total 900.000 rekor yang diakses, Aura mengklarifikasi bahwa sebagian besar merupakan nama dan alamat email. Namun, terdapat data yang lebih spesifik milik pelanggan aktif:
Kurang dari 20.000 pelanggan aktif Aura terdampak.
Kurang dari 15.000 mantan pelanggan Aura terdampak.
Data mencakup: Nama, email, alamat rumah, nomor telepon, alamat IP, hingga catatan layanan pelanggan.
Aura menegaskan bahwa informasi sensitif seperti nomor Jaminan Sosial (SSN), kata sandi, maupun informasi keuangan tidak ikut bocor karena sistem internal mereka menggunakan enkripsi tingkat tinggi dengan akses yang sangat terbatas.
Gagal Negosiasi, Data Disebar di Forum Gelap
Laporan menyebutkan bahwa kelompok ShinyHunters telah membocorkan data curian tersebut dalam sebuah file berukuran 12GB. Hal ini dilakukan setelah upaya pemerasan atau negosiasi antara peretas dan pihak Aura tidak mencapai kesepakatan.
Ironisnya, saat mengumumkan insiden ini di situs web mereka, Aura sempat memasang label “robots noindex”. Label ini secara teknis mencegah mesin pencari seperti Google untuk mengindeks halaman tersebut sehingga sulit ditemukan publik. Aura mengklaim hal itu adalah “kesalahan teknis” dan telah memperbaikinya.
Komitmen Pemulihan Kepercayaan
Aura kini tengah dalam proses menghubungi para pengguna yang terdampak secara langsung. Perusahaan mengakui bahwa insiden ini telah mencoreng standar keamanan yang mereka janjikan kepada pelanggan.
“Kami menyadari bahwa dalam kasus ini, kami tidak memenuhi standar tersebut. Kami berkomitmen untuk kembali mendapatkan kepercayaan pelanggan kami,” ungkap pernyataan resmi perusahaan.
Para ahli keamanan menyarankan pengguna Aura untuk tetap waspada terhadap potensi serangan phishing lanjutan yang memanfaatkan data bocor tersebut, seperti penipuan atas nama layanan pelanggan.










