INTERNASIONAL

PBB Ubah Peta Dunia, AS Jadi Satu-satunya Penolak

PBB mengadopsi resolusi peta dunia baru proyeksi Equal Earth. Sebanyak 164 negara mendukung, AS menolak dan enam negara abstain.

NEW YORK — Peta dunia yang selama berabad-abad menjadi rujukan global kini menghadapi perubahan besar. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadopsi resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi peta yang dinilai lebih akurat dalam menggambarkan perbandingan luas benua.

Resolusi bertajuk “Correct the Map: Rebalancing Global Cartographic Representation and Promoting Equitable Representation of the World’s Regions, Particularly Africa” tersebut disahkan pada Jumat, (4/9/2026). Namun pernyataan terbaru dari Kantor Penasihat Khusus PBB untuk Afrika dipublikasikan pada (8/9/2026).

Hasil pemungutan suara menunjukkan dukungan yang sangat besar. Sebanyak 164 negara memilih mendukung, satu negara menolak, sementara enam negara memilih abstain. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menentang resolusi tersebut.

Enam negara yang memilih abstain adalah Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia dan Ukraina. Dengan hasil itu, resolusi yang digagas Togo bersama kelompok negara-negara Afrika tersebut secara resmi diadopsi oleh Majelis Umum PBB.

Afrika Tak Lagi Terlihat “Mengecil”

Perubahan yang didorong PBB berkaitan dengan penggunaan proyeksi Equal Earth, sebuah sistem pemetaan yang mempertahankan perbandingan luas daratan secara lebih proporsional.

Selama ini, peta Mercator yang dibuat kartografer Flemish, Gerardus Mercator, pada 1569, sangat luas digunakan di dunia. Proyeksi tersebut awalnya dirancang terutama untuk kebutuhan navigasi laut karena garis dengan arah kompas konstan dapat digambarkan sebagai garis lurus.

Masalah muncul ketika peta itu digunakan untuk membandingkan luas wilayah. Semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa, semakin besar pula distorsi ukurannya. Akibatnya, wilayah seperti Greenland, Eropa dan Amerika Utara tampak jauh lebih besar dibandingkan ukuran sebenarnya.

Dalam proyeksi Equal Earth, Afrika terlihat jauh lebih mendekati ukuran sebenarnya. Benua tersebut sebenarnya sekitar 14 kali lebih luas daripada Greenland, meskipun pada peta Mercator keduanya dapat terlihat seolah memiliki ukuran yang relatif berdekatan.

Perubahan tersebut juga membuat Amerika Serikat dan wilayah-wilayah lain di belahan bumi utara tampak lebih kecil secara relatif. Namun, bukan berarti luas wilayah negara atau benua tersebut berubah.

Yang berubah adalah cara permukaan bumi digambarkan di atas bidang datar.

Togo: Peta Membentuk Cara Dunia Melihat Dunia

Togo menjadi penggerak utama resolusi tersebut atas nama kelompok negara Afrika. Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menilai persoalan peta bukan sekadar masalah teknis kartografi.

Dalam pembahasan di Majelis Umum PBB pada 4 September 2026, Dussey menekankan bahwa peta memiliki pengaruh terhadap pendidikan, imajinasi dan cara masyarakat memahami dunia.

Bagi negara-negara Afrika, persoalan tersebut berkaitan dengan representasi. Selama puluhan tahun, peta yang banyak digunakan di sekolah, media dan berbagai platform digital membuat Afrika terlihat jauh lebih kecil daripada ukuran geografis sebenarnya.

Karena itu, kampanye “Correct the Map” dipandang sebagai upaya mengoreksi persepsi yang telah terbentuk selama beberapa generasi.

PBB sendiri menyebut resolusi itu sebagai bagian dari kampanye yang dipimpin Afrika untuk mengurangi distorsi dalam penggambaran ukuran benua.

AS Menolak: Dinilai Bukan Prioritas Dunia

Di tengah dukungan luas anggota PBB, Amerika Serikat justru berdiri sendirian di kubu penolak.

Perwakilan AS menyampaikan keberatan terhadap resolusi tersebut dan menilai isu perubahan proyeksi peta tidak seharusnya mengambil perhatian internasional di tengah persoalan dunia yang jauh lebih mendesak. Kantor Penasihat Khusus PBB untuk Afrika mencatat bahwa Washington menggambarkan inisiatif tersebut sebagai bagian dari proyek ideologis.

Sikap Washington menjadi sorotan karena 164 negara lainnya memilih mendukung resolusi tersebut.

Meski demikian, resolusi itu tidak bersifat mengikat secara hukum. PBB tidak melarang penggunaan peta Mercator dan tidak menetapkan satu jenis proyeksi sebagai satu-satunya peta dunia yang boleh digunakan.

Resolusi justru mendorong pemerintah, sekolah, organisasi internasional dan perusahaan teknologi mempertimbangkan penggunaan proyeksi Equal Earth maupun proyeksi equal-area lainnya, terutama ketika tujuan pemetaan adalah menunjukkan perbandingan luas wilayah.

Bukan Berarti Peta Mercator “Salah”

Perdebatan ini juga tidak berarti peta Mercator dianggap tidak berguna.

PBB menegaskan bahwa setiap proyeksi peta memiliki kelebihan dan keterbatasan. Permukaan bumi berbentuk bulat sehingga tidak mungkin dipindahkan ke bidang datar tanpa menimbulkan distorsi pada aspek tertentu, baik luas, bentuk, jarak maupun arah.

Mercator tetap memiliki fungsi penting, khususnya untuk kebutuhan navigasi yang menjadi alasan utama proyeksi tersebut dikembangkan pada abad ke-16.

Dengan demikian, resolusi PBB lebih tepat dipahami sebagai dorongan untuk menggunakan proyeksi yang sesuai dengan tujuan pemetaan, bukan sebagai perintah untuk menghapus Mercator dari seluruh penggunaan.

Persoalan Batas Wilayah Ikut Memanas

Dukungan terhadap resolusi ternyata tidak sepenuhnya tanpa catatan.

Ukraina menyatakan keberatan terhadap cara sejumlah peta berbasis Equal Earth menggambarkan wilayah Ukraina yang saat ini diduduki Rusia. Kiev khawatir persoalan teknis kartografi dapat menimbulkan tafsir politik mengenai status wilayah.

Uni Eropa juga memberikan penjelasan bahwa resolusi tersebut hanya menyangkut representasi relatif luas daratan dan tidak mengubah kedaulatan, status wilayah, delimitasi maupun batas negara yang diakui secara internasional.

Serbia juga menyampaikan kekhawatiran serupa mengenai sejumlah representasi politik pada materi yang berkaitan dengan Equal Earth sehingga memilih abstain.

Oleh karena itu, PBB menempatkan isu tersebut dalam batas yang cukup tegas: perubahan proyeksi tidak boleh digunakan sebagai dasar untuk mengubah status hukum suatu wilayah.

Indonesia termasuk Pendukung

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang menjadi pendukung resolusi tersebut dalam proses pengajuan bersama. Dalam sidang Majelis Umum PBB, sejumlah negara menyatakan bahwa tujuan utama resolusi adalah meningkatkan akurasi pendidikan geografis dan pemahaman mengenai perbandingan luas benua.

India, misalnya, menyatakan dukungan terhadap prinsip penggunaan proyeksi equal-area, tetapi tidak ingin resolusi tersebut dimaknai sebagai pengesahan mutlak terhadap satu jenis proyeksi tertentu.

Sikap itu menunjukkan bahwa sebagian besar negara melihat isu tersebut terutama sebagai persoalan metodologi kartografi, bukan pertarungan geopolitik.

Peta Berubah, Dunia Tidak

Pada akhirnya, resolusi tersebut tidak mengubah letak benua, luas negara maupun bentuk geografis bumi.

Afrika tidak tiba-tiba menjadi lebih luas. Amerika Serikat juga tidak menyusut secara geografis.

Yang berubah adalah representasi visualnya.

Namun justru di situlah kejadian ini menjadi penting. Peta merupakan alat pendidikan yang digunakan manusia sejak kecil untuk mengenali dunia. Ketika suatu wilayah dijelaskan lebih besar atau lebih kecil daripada proporsi sebenarnya, persepsi mengenai dunia pun dapat ikut terbentuk.

Oleh karena itu, kemenangan 164 suara di Majelis Umum PBB bukan sekedar perkara mengganti gambar peta di dinding kelas.

Ini merupakan gambaran mengenai bagaimana dunia menggambarkan dirinya sendiri.

Resolusi tersebut memang tidak memaksa dunia meninggalkan Mercator. Tetapi keputusan pada 4 September 2026 menunjukkan bahwa mayoritas negara anggota PBB menginginkan representasi geografis yang lebih proporsional, terutama terhadap Afrika dan kawasan Global South.

Bagi Togo dan negara-negara Afrika, perjuangan itu bukan semata-mata tentang kartografi. Ini tentang bagaimana sebuah benua yang selama berabad-abad tampak “lebih kecil” di atas peta akhirnya mendapatkan gambaran yang lebih mendekati ukuran sebenarnya.

image_print

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts