ACEH

Unimal Jadi Magnet Global: Rektor Ungkap Capaian dan Riset

Rektor Unimal Prof. Herman Fithra ungkap lonjakan mahasiswa asing dan akreditasi Unggul. Simak juga catatan kritis jurnalis terkait pengangguran Lhokseumawe.

Universitas Malikussaleh (Unimal) kini tidak lagi sekadar menjadi kampus kebanggaan masyarakat “Bumi Pase”, melainkan telah bertransformasi menjadi institusi pendidikan yang diperhitungkan di kancah internasional. Fenomena ini diungkapkan langsung oleh Rektor Unimal, Profesor Herman Fithra, dalam acara “Muhasabah Jurnalis Pase dan Iftar Bersama” yang berlangsung di Gedung AAC Unimal, Lhokseumawe, Selasa sore (17/3/2026).

Dalam paparannya, Prof. Herman menyebutkan bahwa daya tarik Unimal telah menembus batas negara. Hal ini dibuktikan dengan komposisi mahasiswa yang kian heterogen. “Mahasiswa Unimal saat ini tidak hanya datang dari berbagai penjuru tanah air, tetapi juga merambah mancanegara, seperti Kamboja, Prancis, Turki, hingga Brunei Darussalam,” jelasnya.

Transformasi Infrastruktur dan Kualitas Akademik

Lonjakan minat calon mahasiswa ini dibarengi dengan pembangunan infrastruktur yang masif. Unimal terus memacu pembangunan gedung-gedung baru di lokasi strategis, mulai dari Kampus Reuleut hingga kawasan Bukit Indah.

Secara statistik, pada tahun ajaran 2024/2025, Unimal mencatat sebanyak 23.398 mahasiswa aktif dengan rata-rata penerimaan 5.000 mahasiswa baru setiap tahunnya. Statusnya sebagai Badan Layanan Umum (BLU) juga diperkuat dengan raihan akreditasi “Unggul” secara institusi.

Saat ini, Unimal telah memiliki 25 Guru Besar (Profesor) dan 13 program studi yang telah mengantongi predikat “Unggul”, menegaskan posisi kampus ini sebagai salah satu universitas paling diminati di Indonesia.

Refleksi Kritis: Sorotan terhadap Pengangguran dan KEK Arun

Acara yang dipandu oleh pengamat sosial Dr. Teuku Kemal Fasya ini tidak hanya menjadi panggung pencapaian, tetapi juga ruang otokritik. Jurnalis Line1.News, Irman, melontarkan catatan tajam terkait relevansi peran intelektual kampus terhadap persoalan riil di Aceh.

Irman menyoroti kondisi ekonomi masyarakat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor November 2025 yang hingga kini belum pulih sepenuhnya. Ia menekankan perlunya kolaborasi antara kampus, elemen sipil, dan pers untuk mengawal pemulihan ekonomi penyintas.

“Pertanyaannya, sejauh mana riset kampus menyentuh persoalan lokal? Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Lhokseumawe masih yang tertinggi di Aceh. Kami juga mempertanyakan apakah para akademisi mengkaji mandeknya perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun,” cetus Irman dalam sesi diskusi.

Komitmen Keterbukaan dan Kolaborasi

Merespons kritik tersebut, Teuku Kemal Fasya menjelaskan bahwa rincian dan pemanfaatan dana penelitian dapat dikonfirmasi lebih lanjut melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unimal sebagai bentuk transparansi.

Rektor Herman Fithra menyambut baik masukan kritis tersebut sebagai energi untuk terus berbenah. Beliau menegaskan bahwa para dosen tetap berkomitmen melakukan riset yang berdampak bagi daerah, meski tantangan di lapangan sangat kompleks.

“Kami sangat berterima kasih kepada rekan-rekan jurnalis. Masukan ini adalah bagian penting dalam membangun Unimal ke arah yang lebih baik,” pungkas Prof. Herman sebelum menutup kegiatan dengan buka puasa bersama untuk mempererat silaturahmi antara sivitas akademika dan insan pers wilayah Pase.

image_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts