SEANTERONEWS.com – Organisasi Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan darurat terkait krisis kemanusiaan di Yaman yang semakin memburuk. Dalam laporan terbaru pada Jumat (30/1/2026), PBB mengungkapkan bahwa penyitaan peralatan telekomunikasi dan perangkat teknis oleh kelompok Houthi secara serius mengancam operasi bantuan yang krusial bagi kelangsungan hidup jutaan warga sipil.
Langkah sepihak ini dipandang sebagai hambatan besar bagi koordinasi distribusi bantuan makanan dan layanan medis di wilayah-wilayah yang paling terdampak konflik.
Kronologi Penyitaan Peralatan Vital
Menurut keterangan resmi perwakilan PBB, kelompok Houthi telah mengambil alih sejumlah besar peralatan komunikasi, termasuk perangkat radio dan sistem transmisi data yang digunakan oleh lembaga kemanusiaan internasional.
Penyitaan ini dilakukan dengan dalih keamanan nasional di wilayah yang mereka kuasai. Namun, bagi PBB, perangkat tersebut adalah “tulang punggung” dari operasi lapangan yang memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat secara aman dan tepat waktu.
Dampak Bagi Jutaan Warga Yaman
PBB menegaskan bahwa tanpa alat komunikasi yang memadai, risiko bagi para pekerja kemanusiaan meningkat drastis.
Koordinasi antara gudang logistik dan tim lapangan di daerah terpencil menjadi terputus.
Tanpa radio satelit, pekerja bantuan tidak dapat melaporkan situasi darurat atau meminta bantuan saat berada di zona berbahaya.
Beberapa program distribusi pangan terpaksa ditangguhkan sementara demi keselamatan personel.
Tekanan Internasional Terhadap Houthi
PBB mendesak kepemimpinan Houthi untuk segera mengembalikan peralatan tersebut tanpa syarat. Sejumlah donor internasional juga menyatakan keprihatinan bahwa tindakan ini dapat memaksa mereka untuk meninjau kembali pendanaan bantuan jika akses dan keamanan tidak lagi terjamin.
“Tindakan ini hanya akan memperparah penderitaan rakyat Yaman yang sudah berada di ambang kelaparan ekstrem,” ungkap seorang pejabat senior PBB dalam keterangannya di Aden.
Krisis yang Tak Kunjung Usai
Yaman tetap menjadi salah satu lokasi krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Dengan lebih dari separuh populasi bergantung pada bantuan internasional, gangguan teknis sekecil apa pun memiliki konsekuensi fatal. Masyarakat internasional kini menunggu respons dari pihak Houthi terkait seruan pengembalian aset telekomunikasi tersebut untuk mencegah penghentian total operasi bantuan di tahun 2026.[]










