SEANTERONEWS.com – Donald Trump, kembali memicu badai kontroversi internasional. Dalam pernyataan terbaru yang mengejutkan, Trump melontarkan tuduhan tajam terhadap sekutu militer Amerika di NATO. Ia mengeklaim bahwa pasukan dari negara-negara anggota NATO sengaja menghindari pertempuran di garis depan selama konflik berkepanjangan di Afghanistan.
Pernyataan ini langsung memicu kemarahan besar di kalangan diplomat global dan para veteran perang yang merasa pengorbanan mereka telah direndahkan.
Tudingan “Hindari Garis Depan” yang Provokatif
Trump menyebut bahwa banyak negara anggota NATO hanya mengirimkan pasukan dengan instruksi khusus untuk menghindari zona tempur yang berbahaya. Menurutnya, beban pertempuran yang paling berat hampir seluruhnya dipikul oleh tentara Amerika Serikat, sementara negara-negara lain hanya mengambil peran pendukung di wilayah yang relatif aman.
Tuduhan ini dianggap sebagai serangan langsung terhadap kredibilitas dan solidaritas aliansi pertahanan terbesar di dunia tersebut, yang selama ini memegang prinsip “satu untuk semua”.
Reaksi Keras dan Kecaman Global
Tidak butuh waktu lama bagi para pemimpin dunia dan petinggi NATO untuk memberikan respons.
Kritikus menyebut pernyataan Trump mengabaikan fakta bahwa ribuan tentara non-AS tewas dan terluka di Afghanistan.
Para diplomat khawatir narasi ini akan memperlemah hubungan transatlantik di tengah situasi keamanan global yang kian tidak menentu.
Pakar militer menegaskan bahwa banyak pasukan dari negara seperti Inggris, Kanada, Denmark, dan lainnya terlibat dalam pertempuran paling berdarah di wilayah Helmand dan Kandahar.
Dampak Politik di Dalam Negeri
Di Amerika Serikat sendiri, pernyataan ini menjadi komoditas politik yang panas. Pendukung setianya melihat ini sebagai bukti sikap “America First”, namun lawan politiknya menilai ini sebagai langkah ceroboh yang bisa mengisolasi Amerika Serikat dari sekutu tradisionalnya.
Pihak NATO dalam rilis resminya menegaskan bahwa setiap negara anggota telah berkontribusi sesuai kapasitas dan kesepakatan bersama, serta menekankan bahwa keberhasilan operasi militer tidak bisa diukur hanya dari sudut pandang satu negara.[]










