SEANTERONEWS.com – Tekanan terhadap mata uang Rupee India kian meningkat pada perdagangan Rabu (14/1). Mata uang negara anak benua tersebut berisiko terperosok melampaui level dukungan (support) psikologis setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan memicu lonjakan nilai tukar Dollar AS secara global.
Situasi ini menempatkan Bank Sentral India (RBI) dalam posisi siaga tinggi untuk mengintervensi pasar guna mencegah depresiasi yang terlalu tajam.
Laporan inflasi terbaru dari Negeri Paman Sam memberikan kejutan bagi pasar keuangan dunia. Angka yang melonjak melampaui ekspektasi analis memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga.
Dampaknya langsung terasa pada indeks Dollar:
Indeks Dollar (DXY): Meroket ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Imbal Hasil Obligasi AS: Ikut merangkak naik, menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (EM), termasuk India.
Para pelaku pasar kini memperhatikan dengan seksama level 84,50 hingga 84,60 per Dollar AS. Analis teknikal memperingatkan bahwa jika Rupee gagal bertahan di angka tersebut, mata uang ini bisa tergelincir ke wilayah yang belum pernah terjamah sebelumnya (level terendah sepanjang masa).
“Data inflasi AS adalah ‘game changer’ pekan ini. Rupee tidak punya pilihan selain tunduk pada keperkasaan Dollar kecuali ada intervensi besar-besaran dari RBI,” ujar seorang trader valas dari bank swasta terkemuka di Mumbai.
India tidak sendirian. Kejatuhan Rupee terjadi di tengah pelemahan massal mata uang Asia lainnya terhadap Greenback. Won Korea, Baht Thailand, dan Rupiah Indonesia juga terpantau mengalami tekanan serupa, menunjukkan bahwa sentimen negatif ini menyelimuti seluruh kawasan regional.
Pelemahan Rupee yang berkelanjutan memiliki risiko ganda:
Inflasi Impor: Harga barang-barang impor, terutama minyak mentah, akan menjadi lebih mahal bagi India.
Defisit Dagang: Melebarnya kesenjangan perdagangan akibat biaya impor yang membengkak.
Meski demikian, banyak pihak meyakini bahwa RBI memiliki cadangan devisa yang cukup kuat untuk meredam volatilitas yang berlebihan di pasar valuta asing.[]












