SEANTERONEWS.com – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Venezuela mencapai titik didih baru. Sebuah investigasi mengungkap adanya warga negara Amerika Serikat yang kini ditahan oleh kelompok paramiliter pro-pemerintah di Venezuela, sebuah langkah yang disebut-sebut sebagai bagian dari taktik tekanan politik rezim Maduro terhadap Washington.
Insiden penangkapan ini menambah daftar panjang warga AS yang terjebak dalam pusaran konflik domestik Venezuela, di mana mereka seringkali dituduh sebagai mata-mata atau tentara bayaran tanpa bukti yang jelas.
Kelompok paramiliter, yang dikenal sebagai colectivos, diduga kuat beroperasi di bawah perlindungan pemerintah untuk melakukan operasi yang tidak bisa dilakukan secara resmi oleh militer.
Sebagian besar warga AS yang ditahan dituduh terlibat dalam rencana destabilisasi pemerintahan, sebuah klaim yang secara konsisten dibantah oleh Departemen Luar Negeri AS.
Analis meyakini bahwa penahanan warga Amerika digunakan oleh Caracas sebagai alat tawar-menawar (leverage) untuk meringankan sanksi ekonomi atau pembebasan tahanan sekutu Venezuela di AS.
Investigasi tersebut juga menyoroti kondisi kesehatan dan mental para tahanan. Banyak dari mereka dilaporkan:
Pemerintah Venezuela seringkali menghalangi perwakilan diplomatik AS untuk menemui warga mereka.
Isolasi berkepanjangan dan interogasi intensif tanpa pendampingan hukum yang sah.
Departemen Luar Negeri AS telah memperbarui peringatan perjalanan (Travel Advisory) ke tingkat tertinggi bagi warganya. Gedung Putih menegaskan bahwa keselamatan warga Amerika adalah prioritas utama dan tidak menutup kemungkinan adanya tindakan balasan jika para tahanan tidak segera dibebaskan.
“Penahanan warga sipil sebagai pion politik adalah pelanggaran berat hukum internasional. Dunia tidak boleh diam melihat ketidakadilan ini,” tegas seorang pejabat senior AS.[]












