Serangan Terhadap Warisan Budaya dan Kehidupan Petani Palestina
seanteronews.com – Bulldozer Israel menghancurkan lebih dari 3.000 pohon zaitun berusia lebih dari satu abad di desa al-Mughayyir, dekat Ramallah. Aksi ini dilakukan bertahap sejak Kamis lalu dan menimbulkan duka mendalam bagi para petani yang menggantungkan hidup dari hasil kebun zaitun mereka.
Alasan Keamanan atau Taktik Pengusiran?
Militer Israel berdalih bahwa pohon-pohon tersebut membahayakan akses jalan menuju pemukiman. Namun, warga desa dan asosiasi pertanian setempat menilai langkah ini adalah bentuk tekanan sistematis untuk memaksa penduduk Palestina meninggalkan tanah mereka.
Kunjungan Simbolik untuk Tunjukkan Solidaritas
Gubernur Ramallah dan Al-Bireh, Leila Ghannam, turun langsung meninjau lokasi dan mengecam tindakan perusakan itu. Ia menyebut kebijakan ini sebagai strategi kolonial terencana yang dilakukan pemerintah Israel untuk mempersempit ruang hidup warga Palestina.
Pembalasan dari Tanah yang Dihancurkan
Laporan lembaga kemanusiaan menyebut bahwa sepanjang tahun 2025 telah terjadi ribuan kasus serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina, termasuk pengrusakan pohon zaitun dan tindak kekerasan fisik. Data ini menunjukkan adanya pola sistematis untuk melumpuhkan ekonomi rakyat Palestina yang sebagian besar masih bergantung pada sektor pertanian.
Simbol Kehidupan yang Musnah
Bagi rakyat Palestina, pohon zaitun bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan simbol identitas, budaya, dan perlawanan. Penghancuran ribuan pohon ini dipandang sebagai upaya merusak fondasi sosial dan sejarah masyarakat Palestina, sekaligus memperparah krisis pangan serta ketegangan politik di kawasan.[]










